Tanda-tanda awal perubahan yang bakal itu muncul pada 1595. Laksamana Cornelis de Houtman, panglima ekspedisi pertama Belanda ke Hindia, pada tahun itu, dengan banyak menimbulkan heboh dan mengadakan perdagangan barter, terus menyusuri dari Jawa sampai sejauh Bali dalam upaya mencari rempah-rempah. Ia menimbulkan gelombang keresahan yang terasa sekali di Ternate walau hanya orang Spanyol dan Portugis di Tidore yang terletak di sebelahnya menjadi sangat gelisah. Bahkan di tahun 1599 itu, Laksamana Van Neck dari Belanda mendatangkan ekspedisi baru yang berlayar dari Jawa menuju Ambon. Di sana mereka menjalin hubungan dengan para kepala suku Hitu yang berkuasa, berdagang cengkeh, dan ikut orang-orang Hitu mengancam benteng Portugis.
Hal yang sama dirasakan Tan Malaka. Ketika Tan Malaka dan Ternate (II) yang digambarkan Bang Gha, Harry A. Poeze, sejarawan Belanda yang meneliti kehidupan Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia, mengakui sangat tertarik dengan fakta adanya relasi antara Tan dan Ternate. Meskipun belum meneliti secaa khusus sejarah ini, lewat surel (surat eletronik) kepada dirinya, bahwa ia diminta mengirim catatan AM Kamarudin alias Om Sau, pahlawan kemerdekaan yang dalam perjuangannya banyak bersinggungan dengan kehidupan Tan. Poeze menyebut jejak samar Tan Malaka terbaca saat tokoh PKI Budisutjitro di tahan di Ternate bulan Mei 1926.
Ekspansi tersbut akhirnya pengaruh kuat komunis di Ternate dan baru terlihat di tahun 1921 saat Raden Gondojuwono, seorang keturunan Pangeran Diponegoro, dibantu Said Hamid Assor (seorang khatib masjid) menjadikan PKI sebagai gerakan protes rakyat yang gencar dan aktif (belakangan HS Assor menjadi pejabat biro PKI yang terpilih dalam kongres III mewakili Ternate).
Saiful Bahri Ruray juga mengakui dalam buku Belajar, Kemerdekaan, dan Kemanusian. Tan banyak mendapat kesempatan berjuang bersisian dengan Om Sau. Selain ikut pemberontakan PKI di Silungkang tahun 1926, Om Sau bahkan pernah dibuang hingga ke Cina dan saat itu bisa bersama-sama Tan. Apakah Tan pernah ke Ternate? Butuh penelusuran lebih jauh.
Tentang Tan di Ternate masih tanda tanya bagi saya. Kehadiran Tan di Ternate dalam pergolakan PKI perlu dibuktikan dengan sumber-sumber otentik. Tidak hanya satu dua orang. Kalaupun dia berada di Ternate, dia cukup tahu cakupan wiilayah empat Kesultanan di Moloku Kie Raha.
Pandangan saya, kehidupan Tan di Ternate penting kiranya diketahui bekas-bekas surat, tempat tinggal, dan siapa yang pernah berkomunikasi, mengantarkan, dan mendampingi beliau ketika dalam situasi genting. Dan kalau pun ada, akan membawa pengaruh sangat besar terhadap orang-orang Ternate, baik aktivis, maupun perkembangan ilmu pengetahuan di berbagai bidang.
Adakah wasiat dari Tan yang pernah dititipkan kepada orang di Ternate? Dengan demikian, jejak Tan di Ternate sampai saat ini sebagian besar orang belum menyebutkan Tan bersama orang di Ternate telah mewarisi militansi dan aura pribadinya. Tak hanya di situ, saya pun tidak mengetahui catatan Tan dalam sejarah Kesultanan Tidore, Ternate, Jailolo, dan Bacan.
Di bagian dua tentang kearifan lokal. Secara pribadi, saya hanya inspirasi dua tema yaitu, tentang Barifola dan Mata Uang Sosial dan Belajar dari Para Daeng. Barifola sebagai mata uang sosial, sebuah warisan yang dinarasikan Bang Gha di masa depan tidak hanya berhenti pada aspek fisik Barifola, sudah saatnya bersinergi atau menjadi bagian dari kebijakan pemerintah dalam peningkatan kesejahteraan. Misalnya, pasca rumah dibedah dan menjadi baru, ada ketidakadilan ketika membiarkan pola hidup dan aktivitas sosial penghuninya tetap “melarat”. Meski begitu, pandangan saya, Barifola tidak hanya sekadar menghibahkan nilai-nilai kemanusiaan untuk mengubah rumah tak layak menjadi layak, namun mampu merawat dan memelihara anak-anak dan penghuni rumahnya dari bahaya dan malapetaka pelecehan seksual yang marak terhadap anak-anak di bawah umur di kepemimpinan saat ini.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.