“Harapan kita SDA bisa menyejahterakan kita, tapi dalam banyak kasus masyarakat yang tinggal di sekitar tambang eksplorasi selalu hidup dalam kemiskinan. Kami mendorong keprihatinan ini untuk dapat kita carikan solusi bersama,” pinta Alex.

Lebih lanjut, Alex memaparkan berbagai permasalahan dalam tata kelola nikel. Pertama, katanya, tidak konsistennya kebijakan peningkatan nilai tambah nikel, sehingga memberi insentif terjadinya ekspor illegal. Kedua, lanjutnya, tidak adanya indikator kinerja utama dalam pembangunan smelter mengakibatkan lemahnya sistem penilaian dan monitoring evaluasi pembangunan smelter.

Masalah ketiga, kata Alex, lemahnya sistem verifikasi pengangkutan dan penjualan komoditas nikel karena dalam Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) Badan Usaha tidak mencantumkan titik koordinat dan titik serah penjualan.

“Dan, keempat, belum terintegrasi secara realtime sistem yang ada di internal Ditjen Minerba, maupun dengan sistem eksternal DJBC, Ditjen Anggaran, Ditjen Hubla, dan Ditjen Daglu,” terangnya.

Selain itu, sambungnya, aktivitas pertambangan nikel juga belum mengindahkan prinsip good mining practices. Sehingga, katanya, masih ditemukan fakta kerusakan lingkungan di sekitar kawasan pertambangan.

“Oleh karena itu, saya berharap rakor hari ini dapat menjadi jalan perbaikan tata kelola dan efektifitas penegakan hukum di komoditas nikel Indonesia. Sehingga, amanat konstitusi untuk melakukan pengelolaan yang bermuara pada sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dapat terwujud,” tutup Alex

Sementara itu, Inspektur Jenderal Kementerian ESDM Prof Akhmad Syakhroza memaparkan materi perihal pengelolaan SDA dilihat secara global context dalam menata SDA. Hasil Survey of Mining Companies 2020, Indonesia dengan skor 44,32, katanya, berada pada ranking 74 dari 77 negara yang disurvei. Menurutnya, daya tarik investasi Indonesia 5 besar paling bawah yang artinya tidak menarik.

“Policy kebijakan yang kita buat sekarang kurang berkualitas. Di mana masalahnya? Kenapa orang-orangnya cerdas, pintar tapi kok inovasinya rendah? Suruh ngelola nggak bisa, nggak inovatif. Berarti ada sesuatu. Bukan pada kapasitas orangnya. Tapi peluang untuk menggunakan kapasitas itu,” ujar Syakhroza.