Seorang pelatih profesional sudah harus menggunakan variabel yang dapat dianalisis menggunakan algoritma dan/atau sistem komputer dengan mengasumsikan bahwa terdapat tingkat variabel predicator ideal yang harus dipenuhi oleh calon pemain yang diseleksi, bukan tingkat minimal yang harus dipenuhi. Sehingga dapat menghitung pemetaan gap yang merupakan perbedaan antara profil pemain yang diseleksi dan profil posisi yang tersedia yang diukur dari nilai atribut yang telah ditentukan Gap = Profil Pemain – Profil Posisi.
Begitu juga penentuan bobot nilai gap, bobot nilai yang telah ditentukan masing-masing posisi dimasukkan selisih dari profil pemain dan profil posisi. Untuk menganalisis pemain sesuai dengan posisi dengan algoritma Profile Matching, dalam proses ini pelatih terlebih dahulu tentukan aspek atau kriteria yang menjadi landasan dalam perhitungan calon pemain sesuai dengan posisi idealnya, pemain mana yang memenuhi kriteria adalah hasil nilai kerja harus memenuhi syarat wajib yang telah ditentukan berdasarkan hasil perhitungan algoritma atau sistem komputer.
Masyarakat Maluku Utara harus bangga dengan prestasi yang luar biasa diraih manajemen sepak bola PON Maluku Utara yang dapat lolos pada PON 2021 di Papua, sehingga harus diberikan apresiasi. Namun prestasi ini juga masih ada kekurangan yang harus dikritisi dan diberikan solusi untuk perkembangan sepak bola Maluku Utara. Di antaranya: ke depan manajemen sudah harus menyesuaikan pengelolaan sepak bola dengan perkembangan teknologi seperti mengimplementasikan Artificial Intelligence untuk menghindari subyektivitas manajemen (pelatih) dalam pemilihan pemain saat seleksi, penentuan posisi, dan lain-lain. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.