Ia menyanyikan lagu Astrid

Aku tersesat menuju hatimu, Beri aku jalan yang indah, Izinkanku lepas penatku, ‘Tuk sejenak lelap di bahumu..”

Beberapa hari kemudian ketika akan membeli rokok dan kopi sasetan di kios, aku mendengar suara yang sama tengah memesan rokok juga.

“Kita yang kemarin nyanyi? kusukai dengar. Bagus sekali..” Aku memberanikan diri memuji orang yang baru kulihat rupanya.

“Biasanya orang nda langsung memuji. Apalagi suaraku yang langsung napuji,

“Indra namaku,” Ku sodorkan tanganku.

“Danum…”

Mulai hari itu kami berteman. Yah, teman. Perasaan teman, kuyakinkan diriku berkali-kali kami adalah teman… (*)