“Terobos UMI saja, nda apa-apa,”

“Serius Lala?”

Tanpa mendengarnya mengiyakan aku langsung melajukan motor Beat andalan kami. Menyalip mobil pete-pete dan kendaraan pribadi lainnya. Di depan sana, polisi tampak menahan beberapa kendaraan motor. Yang dicurigai digotong mereka. Melihat itu, degup jantungku berdebar. Danum memelukku, dengan pelan ia berbisik “tenang, tidak apaji, Bang.”

Bisikan itu cukup menguatkanku. Plus pelukannya membuatku semakin yakin, ditangkap polisi atau digebukin preman tadi juga tidak masalah bagiku.

Dari dalam kampus UMI masih terlihat beberapa mahasiswa yang masih eksis “berjuang” melempari polisi dengan batu. Kami berhasil melewati sweeping polisi yang sedari awal menjadi beban pikiran kami untuk balik pulang.

“Orang Dayak memang jago bah,” Aku menggoda Danum.

“Bagaimana? Sakti ka toh? Tapi lebih jago orang Halmahera beng,” Danum balik menggodaku.

Danum masih saja memelukku. Aku sengaja membiarkannya.

Kosan tempatnya tinggal berada di Abdesir, kami memilih Dirgantara sebagai jalan pintas menuju ke sana.

Sial saja, di depan terlihat gerombolan bocil sedang memegang genteng seng dan yang lainnya terlihat menarik karet ketapel dengan peluru busur saling baku hantam, jalan menjadi pemisah kedua kelompok ini. Aku yang panik menghentikan motor kami tepat di tengah-tengah perang generasi bangsa ini. Danum memanggil-manggil namaku, “Dra… Indra…” Aku kembali sadar dan kembali menarik gas.

“Saya tahu ji orang Halmahera jago, tapi nda begitu juga,” Kekesalannya beralasan kali ini.

Sorry Num, sorry. Tiba-tiba nge-blank ka.”

Kami tiba di tempatnya Danum ngekos. Di sana dia baru melepaskan pelukan yang sebenarnya masih kubutuhkan.

Danum.. Wajahnya oval membuatnya terlihat sangat feminim, matanya yang seperti almond simetris sempurna dengan sudut luar (ekor mata) yang sedikit terangkat, hidungnya mancung dan besar, Danum memiliki dagu lancip yang terbelah. Rupanya dari jarak sedekat ini aku bisa melihat kumis tipis di atas bibirnya yang merah karena pewarna bibir itu.