Tandaseru — Renggangnya hubungan Wali Kota Ternate, Maluku Utara, M. Tauhid Soleman dengan wakilnya Jasri Usman mendapat sorotan DPRD.
Ketua Komisi II Mubin A Wahid menyatakan, apa yang dipertontonkan Tauhid-Jasri tidak mencerminkan karakter pemimpin yang baik. Hal ini berdampak pada buruknya penilaian publik.
Ia menegaskan, koordinasi menjadi kunci menjaga roda pemerintahan.
“Kalau persoalan sekarang apa yang dilakukan oleh Wali Kota tidak ada koordinasi dengan wakilnya, terus apa fungsi dari kerja Wakil?” tutur anggota DPRD empat periode tersebut, Rabu (28/7).
Karena itu, lanjut Mubin, wajib hukumnya kebijakan-kebijakan Wali Kota dikoordinasikan dengan Wawali, sehingga roda pemerintahan bisa berjalan sesuai yang diharapkan.
Ia memaparkan, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah menjelaskan bahwa kepala daerah mempunyai tugas memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-perundangan dan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD.
Selanjutnya memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat, menyusun dan mengajukan rancangan tentang RPJMD kepada DPRD untuk dibahas bersama DPRD serta menyusun dan menetapkan RKPD dan seterusnya.
“Kemudian pada Pasal 66 menjelaskan tentang tugas wakil kepala daerah yaitu membantu kepala kepala daerah memimpin pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kepala daerah, mengkoordinasikan kegiatan perangkat daerah yang menindaklanjuti laporan atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan, serta memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintah yang dilaksanakan oleh perangkat daerah provinsi bagi wakil gubernur,” jabarnya.
“Kata kunci dalam tupoksi wakil wali kota yaitu membantu kepala daerah seperti yang tertera di dalam pasal tersebut. Bagaimana wakil mau bantu kalau tidak tahu kebijakannya apa,” tegas politikus Partai Persatuan Pembangunan tersebut.
Menurutnya, berbicara kepemimpinan maka pemimpin harus dewasa.
“Jadi harapannya Wali Kota dan Wakil harus duduk bersama. Jangan mempertontonkan permainan yang tidak layak seperti itu, apalagi baru 2 bulan dilantik dan belum genap 100 kerja,” ujarnya.
“Bagaimana mau memimpin rakyat sebanyak ini di Kota Ternate kalau internal kepemimpinan saja memberikan contoh yang tidak layak di hadapan publik. Dalam sejarah pemimpin Kota Ternate, inilah gaya kepemimpinan yang terburuk yang dipertontonkan,” pungkasnya.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.