“Jika dilihat dari pemicu kematian memang tingkat partisipasi masyarakat kami bilang masih kurang, karena adanya pelayanan sudah banyak inovasi yang di puskesmas yang tersebar di enam kecamatan,” terangnya.

“Layanan di puskesmas kami rasa banyak inovasi puskesmas sudah lakukan terkait dengan bagaimana puskesmas bisa menekan angka kasus. Itu selalu dilakukan,” sambung Jamaludin.

Ia mengatakan, terkait dengan dua indikator tersebut, biasanya untuk kematian ibu terjadi juga di fasilitas pelayanan rujukan di rumah sakit.

“Jadi banyak kematian ibu juga di rumah sakit. Olehnya itu, muatan pelayanan fasilitas rujukan di rumah sakit memang sementara kami juga lakukan penguatan standar-standar layanan di rumah sakit,” katanya.

“Untuk angka kematian ibu ini kalau hamil dalam tempo waktu 9 bulan, sementara tahapan-tahapan pemeriksaan ANC itu trimester 1, trimester 2 dan 3,” tambah dia.

Ia berharap, semoga AKI dan AKB tidak ada penambahan kasus baru lagi.

“Kita sementara lakukan upaya-upaya untuk menekan angka kematian bayi kemudian untuk menekan angka kematian ibu,” harapnya.

Untuk pelayanan di Puskesmas, Dinkes melakukan penguatan standar layanan. Jadi semua Ibu hamil yang ada di wilayah kerja puskesmas paling tidak harus melakukan pemeriksaan.

“Mulai dari pemeriksaan ANC sampai pada persalinan, kemudian sampai memberikan pelayanan pasca persalinan,” jelasnya.

Selain itu, ia juga berharap agar masyarakat atau ibu hamil bisa memanfaatkan saskes yang tersebar di 13 puskesmas.

“Karena kita di Morotai terdapat 13 puskesmas yang tersebar di 6 kecamatan. Dan kami mengharap paling tidak masyarakat juga memanfaatkan faskes, sehingga tingkat partisipasi dan kasus seperti AKI dan AKB bisa kita tekan. Dan paling tidak ada penurunan kasus tersebut,” pungkasnya.