Oleh: Herman Oesman
(Pengajar pada Departemen Sosiologi FISIP UMMU)
______
MENYAMBUT tradisi ela-ela pada setiap pengujung ramadan memiliki makna mendalam. Menjadi memori kolektif dan pengalaman setiap kaum Muslim, terutama di Maluku Utara. Tradisi ela-ela merupakan produk pemikiran lokal bertaut dengan nilai ajaran Islam yang mengandung keluhuran metafisis perennial yang hidup di tengah masyarakat Muslim Maluku Utara. Berdampingan, seiring, sejalan. Tradisi ela-ela merupakan hasil perjumpaan yang lalu melahirkan simbol memaknai lailatul qadar, malam kemuliaan.
Sebagai produk kultur lokal yang mampu menembus sekat-sekat pemahaman relijiusitas nan ketat, tradisi ela-ela tumbuh subur dari generasi ke generasi. Pada sisi lain, nilai Islam menyesap, mengisi relung-relung tradisi lokal secara cair. Tak hanya perjumpaan, tapi kemudian hadir persenyawaan nilai dan makna. Nilai-nilai Islam dan nilai-nilai kultur lokal secara lentur berjalan beriringan tanpa saling mempredasi. Boleh dikata, tradisi ela-ela merupakan sebuah erudisi yang diwariskan para pendahulu negeri ini.
Sentuhan nilai dan estetika Islam dalam kultur lokal lalu mengental, memberi warna khas dalam sentuhan kehidupan masyarakat Muslim Maluku Utara: “adat ma toto agama, ma dasar kitabullah se sunnah rasul. Majojoko toma dolo bololo dalil tifa se dalil moro, i tutari baldatun thaybatun warabbun ghafur” menjadi pegangan bagi mereka yang memahami agama dengan tradisi secara baik.
Menghadapi hari-hari terakhir ramadan, bagi mereka yang kasyaf dengan perenungan dan maqam tertinggi, menjumpai lailatul qadar melalui i’tikaf. Inilah jalan untuk menemukan cahaya dan menjelajahi pesan langit yang penuh misterium.
Ayat-ayat langit merupakan kilatan transendensi yang maknanya terbungkus secara pejal dan misterium. Memasuki wilayah sarat makna membutuhkan “jalan” yang tidak mudah. Tak cukup pengetahuan dan pemahaman agama, untuk menangkap isyarat alam melalui proses hermeneutis, apalagi sekadar seremoni dan formalisme. Tetapi memasuki suatu dimensi maknawi yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Terbenam pada persepsi yang mendalam. Menurut Roy Wagner dalam bukunya Symbols that Stands for Themselves (1986) persepsi merupakan kualitas manusia paling memberikan pengaruh pada seluruh karya manusia. Karena itulah, persepsi juga merupakan makna yang berada dalam ruang nilai simbolik.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.