Tandaseru — NN alias Anca, oknum dosen di Kota Ternate, Maluku Utara menyatakan sikap mundur dari Tim Pemenangan Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman dan Jasri Usman (TULUS). Pengunduran diri Anca ini dilakukan usai unggahannya yang viral panen kecaman. Anca sendiri diketahui merupakan Ketua Tim Media Center paslon TULUS.
Melalui akun Facebook-nya, Anca menuliskan, sehubungan dengan beredarnya tangkap layar WhatsApp story-nya, ia menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya karena telah menanggapi perkembangan dituasi di Kota Ternate secara emosional dan berlebihan. Permohonan maaf tersebut ia sampaikan kepada semua pihak.
“Sebagai manusia biasa, saya akui sebagai suatu kekeliruan, dan merupakan salah satu kelemahan saya. Karena itu dari lubuk hati yang paling dalam saya sampaikan permohonan maaf,” tulis Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara ini, Jumat (9/10).
Dia menambahkan, postingan yang menuai polemik tersebut ditulisnya atas nama pribadi dan tidak mengatasnamakan pihak manapun.
“Kepada Tim Pemenangan dan Tim Kampanye M. Tauhid Soleman-Jasri Usman yang namanya sempat terpampang di tangkapan layar tersebut, saya sampaikan permohonan maaf secara tulus,” sambung mantan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Maluku Utara ini.
Atas polemik tersebut, Anca pun memutuskan mengundurkan diri dari Tim Pemenangan TULUS.
“Dan sebagai bentuk tanggung jawab sosial, mulai hari ini saya menyatakan mengundurkan diri dari Tim Pemenangan M. Tauhid Soleman-Jasri Usman. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua dan khususnya bagi saya pribadi. Terima kasih,” tutupnya.
Sebelumnya, Anca menuai kecaman setelah WhatsApp Story-nya yang bernada rasisme dan ujaran kebencian bocor ke publik. Sebagai dosen, ia dinilai tak pantas menuliskan kalimat-kalimat tersebut.
Sementara itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maluku Utara menyayangkan sikap oknum dosen tersebut. Ketua Umum DPD IMM Malut Alfajri A. Rahman menyatakan, aksi mahasiswa memprotes pengesahan Undang-undang Ciptaker membuktikan ada yang salah dengan sistem legislasi dan pemerintahan di Indonesia. Karena itu, dampak aksi yang tak dapat dihindarkan seperti rusaknya fasilitas publik tak bisa dijadikan alasan melemahkan pergerakan mahasiswa.
“Selaku pimpinan organisasi IMM, perlu kiranya mendesak dosen harus manjadi contoh serta panutan yang baik. Bukan buat gaduh dengan menulis satus di WhatsApp Story hingga menuai protes,” ungkap Alfajri.
Alfajri bilang, jika status tersebut ditujukan pada ponakannya seperti yang diungkapkan Anca dalam klarifikasinya, tetap saja tidak etis menjustifikasi dan menyakiti hati para mahasiswa yang berdemonstrasi menolak UU Ciptaker.
“Dengan masalah ini, kiranya Rektor UMMU segera mengambil langkah, agar jangan memancing amarah para mahasiswa, apalagi yang kuliah di UMMU. Saya pastikan kalau Rektor tidak ambil langkah maka akan ada aksi besar-besaran di kampus UMMU,” tegasnya.
Dia menegaskan, permintaan maaf Anca di Facebook tidak sepadan dengan sikapnya menyakiti hati para mahasiswa.
“Harus ada efek jera dari pihak kampus,” tandas Alfajri.
Rektor UMMU Saiful Deni yang dikonfirmasi terpisah menyatakan unggahan yang ditulis Anca adalah unggahan pribadi. Karena itu, ia enggan berkomentar lebih jauh.
“Saya pikir itu komentar pribadi Pak Anca. Saya tidak bisa komentar,” katanya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.