Tandaseru — Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara hingga kini masih memberlakukan kebijakan karantina bagi warga yang datang dari luar daerah. Hingga September, sudah 8 ribu orang lebih yang sempat dikarantina.

Data Pemkab Morotai menyebutkan, pada Maret lalu sebanyak 1.391 orang dikarantina. Angka ini melonjak pada April menjadi 2.831 orang.

Pada bulan Mei, jumlah orang yang dikarantina mengalami penurunan menjadi 365, lalu pada Juni naik lagi menjadi 1.255 orang.

Sepanjang Juli, ada 1.416 orang yang dikarantina, Agustus 665 orang dan September 501 orang. Total yang dikarantina mencapai 8.424 orang.

Para peserta karantina ini datang ke Pulau Morotai dari Ternate dan Tobelo melalui jalur transportasi laut maupun udara. Mereka menjalani karantina di hotel, penginapan dan bangunan sekolah yang disediakan pemerintah.

Kepala Bagian Protokoler Pemda Morotai Karim yang juga Pengendali Karantina Covid-19 Morotai saat ditemui tandaseru.com di lokasi karantina mengatakan, dilihat dari grafik peserta karantina mengalami peningkatan pada April. Peserta karantina yang paling banyak ada di SD Unggulan dan SMP.

“Iya, itu data perjalanan. Kalau karantina maksimal 14 hari dan melaksanakan rapid test 2 kali, yang pertama pelaku perjalanan itu masuk kemudian nonreaktif langsung karantina,” tuturnya, Rabu (23/9).

Peserta karantina nonreaktif dan reaktif, kata Karim, ditempatkan terpisah.

“Salah satunya kalau yang nonreaktif ditempatkan di SD Unggulan l kemudian di penginapan-penginapan yang ditentukan. Kalau yang reaktif ditempatkan di Molokai, Jababeka, dan Miamarahai,” tandasnya.

Per 23 September, ada penambahan 17 pasien positif Covid-19 di Morotai. Total kasus terkonfirmasi sebanyak 136, di mana 97 di antaranya telah sembuh dan 1 meninggal dunia.