DUEL di Gelora Bangkalan antara tuan rumah Madura United melawan pendatang baru Malut United adalah sejarah yang sedang ditulis dengan banyak optimisme. Madura adalah runner up Liga 1 musim lalu dan Malut United adalah tim promosi yang baru saja naik ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Publik Maluku Utara -provinsi hasil pemekaran dari Maluku- adalah penggila bola nomor satu. Di daerah ini, urusan sepak bola hanya kalah dari fanatisme agama-agama. 17 tahun berlalu sejak Persiter Ternate asuhan Jacksen F Thiago yang lolos ke Indonesian Super League (ISL) musim pertama terpaksa “berhenti” karena larangan pemerintah menggunakan dana APBD untuk kompetisi profesional, kehadiran Malut United seperti sepotong surga yang dikirim Tuhan ke bumi Kie Raha.
Malut United menambah deretan tim berlabel United di sepak bola Indonesia. Sebelumnya sudah ada Madura, Bali United dan Dewa United. Sejak musim lalu saat bermain di Liga 2 setelah mengakuisisi kepemilikan Putra Delta Sidoarjo, Malut United jadi entitas yang menyatukan. Sebagaimana tujuan awal pendirian klub ini, masyarakat bergembira. Saban hari, media sosial ramai dengan berita sepak bola, kelompok suporter terbentuk di sana sini dan ribuan doa yang dikumandangkan dengan asa tinggi yang dijawab Tuhan dengan tiket lolos ke Liga 1.
Sore ini, sejarah baru untuk sepak bola Maluku Utara dimulai. Away ke kandang lawan di pertandingan pertama liga tentu bukan perkara mudah. Saya senang membaca pernyataan head coach Imran Nahumarury yang menebar optimisme tetapi tetap respek dengan kemampuan lawan. Imran boleh dikata pelatih muda yang fenomenal. Ia sukses bikin tim promosi dan dipercaya jadi nakhoda. Sikapnya selalu merendah dan mau terus belajar.
Sepak bola baginya adalah tantangan yang mesti disikapi dengan kecerdasan. Setiap hari permainan berubah, tim berganti dan karena itu game manajemen juga harus antisipatif. Sebagian skuad musim lalu dilepas, pemain baru didatangkan untuk menutupi sebagian yang lepas itu. Tentu dengan kualitas nomor satu. Kombinasi pemain asing juga jadi pembeda. Mereka didatangkan dari Brazil, Argentina, Portugal, Paraguay, Armenia, Sierra Leone dan Jepang.
Imran telah membesut persiapan timnya selama dua bulan. Enam partai uji coba dilakukan untuk menebalkan chemistry antar pemain, agar pemain memahami taktikal dan ikatan kekeluargaan kian mengental. Dua bulan ini, semua pemain main dekat, tak ada sekat, pelatih tak punya jarak dan manajemen saban hari hadir di sisi lapangan memberikan support.
Jika melihat kualitas pemain, Malut United terbilang sangat serius menghadapi BRI Liga 1 musim 2024-2025. Dari beberapa uji coba, saya menduga Imran akan memainkan skema 4-3-3. Posisi penjaga gawang sangat mungkin dipercayakan pada Muhammad Fahri -penjaga gawang Persiraja- yang baru didatangkan. Kualitasnya terbilang bagus dengan postur tinggi dan refleks yang cepat akurat.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.