Tandaseru — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu fenomena cuaca El Nino beberapa minggu terakhir menyebabkan kabut asap tebal menyelimuti wilayah Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, hingga Minggu (4/10/2026). Perubahan kondisi udara ini mulai mengganggu kesehatan serta aktivitas harian masyarakat setempat.
Berdasarkan pantauan di lapangan, langit di atas pusat kota Morotai hingga ke kecamatan lainnya yang biasanya berwarna biru cerah kini tampak kelabu. Fenomena kabut tebal bercampur asap ini memuncak pada malam hari hingga pukul 08.00 WIT pagi. Kerapatan asap tidak hanya menghalangi jarak pandang warga saat beraktivitas pagi, tetapi juga tetap terlihat di balik pepohonan di bawah terik matahari sekitar pukul 13.00 WIT.
Selain kabut asap, suhu udara siang hari di wilayah Morotai tercatat mencapai 32 derajat Celcius namun terasa menyengat seperti 37 derajat Celcius. Kondisi ini memicu kekeringan sumber air, merusak tanaman, serta memicu titik kebakaran di mana-mana.
Dampak kesehatan dan paparan asap mulai dirasakan langsung oleh warga, salah satunya Umila. Saat mengantar anaknya ke sekolah dan hendak menuju pasar pada pukul 07.10 WIT pagi, ia merasakan perih pada mata serta sesak saat menghirup udara pagi.
“Saya baru saksikan kabut setebal ini di Morotai. Biasanya kabut seperti ini hanya terdapat di bagian puncak dataran tinggi yang memiliki alam yang khusus, tapi Morotai akhir-akhir ini udaranya sedikit keanehan,” kata Umila saat membagikan pengalamannya.
Ia berharap hujan segera turun untuk memadamkan titik kebakaran lahan dan mengatasi kekeringan air yang melanda pemukiman warga.
“Semoga hujan secepatnya turun, menyiram kebakaran yang di mana-mana terjadi, serta kekeringan air dan tanaman. Keluarga dan warga Morotai banyak kehilangan dengan adanya fenomena panas dan kabut. Terus karena asap ini beraktivitas ke sekolah maupun ke pasar atau di mana saja kita tetap memakai masker demi kesehatan bersama,” tandasnya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.