Oleh: Idham Hasan

_______

JURNALISME modern dibangun di atas prinsip independensi, verifikasi, dan tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Dalam praktiknya, jurnalis tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pengawas kekuasaan serta mediator realitas sosial. Namun, dalam dinamika produksi berita kontemporer terutama di era digital yang menuntut kecepatan dan popularitas muncul kecenderungan narasi yang terlalu sarat pujian terhadap individu, institusi, atau kebijakan tertentu. Pujian yang berlebihan dan berkepanjangan berpotensi mengaburkan fungsi kritis jurnalisme serta menggeser batas antara peliputan objektif dan promosi terselubung. Tulisan ini membahas dampak fenomena tersebut terhadap integritas profesi jurnalistik, kualitas informasi publik, dan struktur wacana demokratis.

Secara normatif, objektivitas dalam jurnalisme bukan berarti ketiadaan perspektif, melainkan komitmen terhadap akurasi, keberimbangan, dan transparansi metodologis. Jurnalis diharapkan menyajikan fakta yang telah diverifikasi dan memberi ruang pada berbagai sudut pandang yang relevan. Ketika pujian mendominasi narasi, keseimbangan tersebut terganggu. Liputan cenderung menonjolkan keberhasilan atau citra positif tanpa menyajikan konteks kritis yang memadai. Dalam kondisi demikian, pembaca tidak memperoleh gambaran utuh mengenai isu yang diliput, melainkan versi yang telah difilter melalui sudut pandang apresiatif.

Salah satu risiko utama pujian berlebihan adalah pergeseran fungsi jurnalis. Alih-alih menjalankan peran watchdog yakni memantau dan mengkritisi kekuasaan, jurnalis berpotensi berubah menjadi agen legitimasi. Narasi yang terlalu memuji menciptakan hubungan simbolik yang dekat antara jurnalis dan narasumber, sehingga jarak profesional yang seharusnya dijaga menjadi kabur. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap media karena pembaca merasa informasi yang disajikan tidak lagi independen.

Teori framing menjelaskan bahwa cara suatu isu disajikan dapat memengaruhi interpretasi audiens. Pujian yang dominan membentuk kerangka interpretasi yang mengarahkan pembaca untuk memandang objek liputan secara positif sebelum mempertimbangkan fakta secara kritis. Dampaknya bukan sekadar estetika penulisan, tetapi juga pembentukan opini publik yang mungkin tidak seimbang. Dalam konteks politik atau kebijakan publik, framing yang terlalu memuji dapat mengurangi ruang deliberasi rasional, karena pembaca cenderung menerima narasi sebagai representasi realitas yang utuh.

Fenomena pujian berlebihan tidak dapat dilepaskan dari perubahan ekosistem media. Kompetisi perhatian di platform digital mendorong produksi konten yang menarik secara emosional dan mudah dibagikan. Narasi yang memuji tokoh populer atau fenomena viral sering kali menghasilkan keterlibatan audiens yang tinggi. Selain itu, hubungan ekonomi antara media dan pengiklan atau sponsor juga dapat memengaruhi tone pemberitaan. Ketika keberlanjutan finansial menjadi pertimbangan utama, batas antara liputan informatif dan konten promosi menjadi semakin tipis.

Dari perspektif etika, pujian yang berlebihan menimbulkan pertanyaan mengenai konflik kepentingan dan integritas profesional. Kode etik jurnalistik di banyak negara menekankan pentingnya independensi serta pemisahan yang jelas antara konten editorial dan promosi. Oleh karena itu, pendidikan jurnalistik perlu menekankan literasi kritis terhadap bahasa dan framing, termasuk kesadaran akan dampak retorika pujian terhadap persepsi publik. Pelatihan jurnalis tidak hanya berfokus pada teknik pelaporan, tetapi juga pada refleksi etis mengenai peran sosial media massa.

Pujian memiliki tempat dalam jurnalisme, terutama untuk mengakui pencapaian atau memberi konteks positif. Namun, ketika pujian menjadi dominan dan berkepanjangan, ia berpotensi menggerus objektivitas, melemahkan fungsi pengawasan, serta membentuk opini publik secara tidak proporsional. Jurnalisme yang sehat memerlukan keseimbangan antara apresiasi dan kritik, antara empati dan skeptisisme. Dengan menjaga jarak profesional dan memprioritaskan verifikasi fakta, jurnalis dapat mempertahankan peran strategisnya sebagai penjaga kualitas informasi dan fondasi diskursus demokratis. (*)