Tandaseru — Bagi Salbia, Satiya, Aria, dan rekan-rekan mereka, lonceng pulang sekolah pukul 11.00 WIT bukan berarti akhir dari perjuangan hari itu. Sebaliknya, itu adalah awal dari perjalanan sejauh kurang lebih 3 kilometer yang harus mereka tempuh dengan berjalan kaki, dari Sekolah Dasar (SD) Inpres Daeo di Kecamatan Morotai Selatan, kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, menuju rumah mereka.

Pemandangan ini adalah realitas harian bagi siswa kelas 1 hingga 6 di sekolah tersebut. Punggung-punggung kecil beriringan di bawah terik matahari, melangkah di bahu jalan raya yang ramai dan berbahaya.

Sekolah di Tengah Sunyi: Ancaman yang Mengintai

SD Inpres Daeo diketahui berlokasi jauh dari permukiman warga, terasing di tengah kebun. Kondisi ini membuat rute pulang para siswa menjadi sunyi dan terasa mengancam. Mereka harus berjalan melewati hamparan pohon kelapa yang tinggi, di jalanan sepi yang berpotensi membahayakan, terutama saat cuaca ekstrem.

Siswa SD Daeo berjalan kaki tiap pulang sekolah. (Tandaseru/Irjan Rahaguna)

Pagi hingga siang bolong dibawa terik matahari, sejumlah siswa terpaksa pulang menepi bahu jalan raya yang berbahaya bagi kendaraan angkutan umum berlalu lalang.

Meski tantangan jarak menjadi beban fisik, para siswa ini menunjukkan semangat baja.

“Bagi siswa itu tidak menjadi kendala demi pendidikan,” ujar Salbia yang ditemui di tepi jalan raya, Sabtu (1/11/2025).

Namun, satu hal yang lebih berat daripada lelah adalah ketakutan.

“Ini sudah lama jalan kaki, pas pulang sekolah tong (kami, red) takut karena sunyi di jalan,” katanya.

Ancaman keselamatan dari hal-hal yang tidak diinginkan menjadi kekhawatiran terbesar dalam perjalanan panjang mereka.

Janji Transportasi yang Patah

Keberadaan bus sekolah seharusnya menjadi solusi atas dilema ini. Mobil sekolah tersebut disediakan oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan untuk layanan antar jemput siswa. Sayangnya, mobil tersebut seringkali tidak beroperasi.

“Iya, kadang antar cuman hari Senin deng (dan, red) Selasa, tapi tidak jemput jadi pulang jalan kaki,” tutur seorang siswa, membenarkan tidak konsistennya layanan antar jemput.

Kondisi ini sangat disayangkan oleh para orang tua murid. Nurliani, salah seorang orang tua, mengungkapkan keprihatinannya.

“Kasian untuk anak-anak sekolah SD yang kelas 1 jalan kaki, padahal ada mobil. Senin, Selasa saja yang diantar, kadang antar dan anak-anak terpaksa pulang jalan kaki, hampir 3 kilometer,” ungkapnya.

Ironisnya, alasan di balik macetnya layanan ini disebut-sebut adalah masalah klasik: ketiadaan biaya Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Jadi berbulan-bulan konon bus antar jemput tidak punya uang BBM,” tambah Nurliani.

Kekhawatiran Orang Tua

Masalah BBM ini menimbulkan keresahan mendalam di kalangan orang tua. Karena lokasi sekolah yang berada jauh dari kampung, jaminan keamanan siswa menjadi taruhan.

“Kami sebagai orang tua khawatir, sudahlah kalau orang tua yang lain ada motor bisa jemput, kalau yang tarada (tidak ada, red) motor terpaksa jalan kaki,” tandas Nurliani.

Kisah perjuangan siswa-siswa SD Inpres Daeo adalah cerminan dari tantangan akses pendidikan yang masih nyata di Kabupaten Pulau Morotai. Walaupun semangat mereka untuk menuntut ilmu tidak pernah padam, nasib keselamatan mereka saat pulang sekolah menanti uluran tangan dan tanggung jawab nyata dari pihak berwenang.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Irjan Rahaguna
Reporter