Oleh: Jandi Farid
Pegiat Pilas Institute
________
MALUKU Utara berada di bagian timur Indonesia dan memiliki berbagai perguruan tinggi di 10 kabupaten dan kota.
Salah satu kota di Maluku Utara dengan sekitar tujuh atau delapan kampus adalah kota Ternate. Kota ini menjadi pusat bagi mahasiswa yang ingin menimba ilmu dan pengalaman.
Di sebelah selatan Kota Ternate, terdapat sebuah kampus yang terkenal, yaitu Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU). Kampus ini memiliki banyak mahasiswa yang datang dari berbagai daerah, termasuk beberapa mahasiswa yang berasal dari luar Maluku Utara, seperti dari Palestina.
UMMU didirikan pada tanggal 5 Juni 2001 dan memiliki berbagai organisasi kemahasiswaan. Selain IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), ada juga organisasi lain yang berdiri bersamaan dengan kampus peradaban ini, yaitu Pilas Institute. Namun, keberadaan organisasi ini jarang terlihat dalam kegiatan kampus UMMU.
Pilas Institute awalnya dikenal dengan nama Lingkar Arus Studi (LAS), sebuah kelompok studi yang didirikan pada 14 September 2001 di lokasi yang dikenal sebagai Podium, di Kelurahan Tanah Tinggi. Pilas dibentuk oleh beberapa individu yang juga merupakan pendiri UMMU, termasuk Guru Herman Oesman dan Guru Agus S. B.
Pendiri LAS juga didukung oleh Irfan Hadi, S.HI, dan Ilham Saidi, yang kemudian ditunjuk sebagai ketua dan sekretaris pertama LAS.
Pada awalnya, LAS fokus menjadi komunitas kecil dengan program utama berupa belajar dan diskusi, serta pengumpulan data dan riset. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini berkembang dengan pesat berkat kepandaian dan dedikasi para anggotanya hingga bisa bersaing dengan organisasi Cipayung yang lain. Secara perlahan, LAS bertransformasi menjadi organisasi semi-LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).
Seiring waktu, lahir tiga generasi baru LAS. Melalui pembicaraan yang panjang, generasi ini sepakat untuk membentuk organisasi baru yang bernama Pilas Institute (Perhimpunan Lingkar Arus Studi), dengan fokus utama dalam membaca, menulis, dan penelitian.
Beberapa teori kunci yang dipakai dalam proses membaca dan menulis di Pilas antara lain teori konstruktivis, teori sosiokultural, dan teori ekologi.
Saya merasa sangat terkesan saat pertama kali mendengar mengenai organisasi ini. Pagi itu, saya duduk menikmati udara sejuk sambil mendengar suara burung bernyanyi. Tiba-tiba, salah satu anggota Pilas datang menghadap saya dan memberikan selembar kertas. Saya tidak tahu apa isinya, tapi ternyata itu adalah formulir pendaftaran anggota baru.
Rasa ingin tahu mendorong saya untuk bertanya kepada mereka tentang Pilas. Dari penjelasan mereka, ketertarikan saya meningkat karena Pilas menekankan pada aktivitas membaca, menulis, dan penelitian. Saya berpikir, jika saya bergabung dengan Pilas, saya bisa belajar banyak tentang menulis dan melakukan penelitian supaya ketika saatnya tiba untuk menyusun proposal dan skripsi, saya sudah siap.
Waktu pun berlalu, dan tiba hari di mana saya bersama teman-teman yang juga calon anggota baru mengikuti kegiatan Pra-LADAS (Latihan Dasar). Kegiatan ini berlangsung di sekretariat Pilas Institute, yang terletak di Kelurahan Gambesi, Ternate Selatan. Di sana, kami diberi penjelasan mengenai perlengkapan yang perlu dibawa serta ditanya apakah ada di antara kami yang memiliki riwayat penyakit. Hal ini dilakukan supaya panitia bisa menyiapkan obat-obatan yang mungkin dibutuhkan selama kegiatan. Saya merasa terkesan dengan ketangkasan dan tanggung jawab panitia terhadap para peserta baru.
Keesokan harinya, pada hari Jumat, pembukaan resmi kegiatan LADAS (Latihan Dasar) berlangsung di Gedung Asrama Haji di Kota Ternate. Acara dimulai dengan pengukuhan pengurus baru, diikuti dengan penyampaian materi oleh para alumni yang dikenal sebagai serambi Pilas. Setelah beberapa sesi materi disampaikan, kami diarahkan menuju sekretariat Pilas untuk melanjutkan rangkaian acara.
Di sana, saya dan teman-teman mulai saling mengenal. Ternyata, banyak di antara kami berasal dari kampus dan daerah yang berbeda, ada yang datang dari Unkhair Ternate, Isdik Kie Raha, IAIN Ternate. Selain itu, ada juga teman-teman dari berbagai tempat seperti Solo (Jawa), Sanana, Makian, Galela, Taliabu, Obi, Patani, dan Weda.
Selama kegiatan berlangsung, kami mendapatkan beragam materi dari para serambi dan melewati malam yang panjang penuh diskusi dan pembelajaran. Setelah semua materi dipresentasikan, kami menjalani evaluasi guna menguji pemahaman dan ingatan kami terhadap apa yang telah diajarkan. Karena beberapa dari kami tidak mengingat sebagian materi, kami diberikan hukuman ringan untuk mencuci muka agar lebih segar.
Setelah beristirahat beberapa jam, tepat pukul lima pagi kami dibangunkan untuk melaksanakan baiat. Salah satu serambi memberikan baiat kepada kami dengan penuh nasihat yang menyentuh. Ia mengingatkan kami tentang perjuangan besar orang tua yang telah berusaha menyekolahkan kami, agar suatu saat kami bisa mengenakan toga yang menjadi kebanggaan mereka.
Saat yang paling ditunggu pun tiba: kami kukuhkan secara resmi sebagai anggota Pilas angkatan ke-27. Perasaan haru dan bangga memenuhi hati kami semua. Setelah melewati perjuangan panjang, akhirnya kami menjadi bagian dari keluarga besar Perhimpunan Lingkar Arus Studi (Pilas Institute).
Harapan saya setelah resmi menjadi kader Pilas adalah untuk terus belajar, terutama dalam bidang penulisan dan penelitian. Saya juga ingin belajar banyak dari para serambi dan terlibat langsung dengan masyarakat agar ilmu yang saya peroleh bisa bermanfaat bagi banyak orang. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.