Oleh: Fahmi Djaguna
Dekan FKIP UNIPAS Morotai
_______
SIANG itu, 15 Oktober 2025, langit Morotai seakan menahan napasnya. Ombak di pesisir D’Aloha Resort Jababeka berdebur pelan, seolah turut menjadi saksi sebuah peristiwa penting yang mungkin akan tercatat dalam bab sejarah pendidikan daerah kepulauan ini. Tepat pukul 12:30 siang Waktu Indonesia Timur, Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Gibran Rakabuming Raka, tiba di tempat itu dalam kunjungan kerja kenegaraan. Namun, di balik jamuan makan siang yang tampak sederhana, terselip percakapan yang menggetarkan makna, sebuah dialog antara Wapres Gibran dan Bupati Pulau Morotai, Bapak Rusli Sibua, dua sosok yang hari itu menyatukan tekad dalam satu kata yakni tentang pendidikan.
Bagi Bupati Rusli, pertemuan itu bukan sekadar diplomasi, bukan pula seremonial biasa yang berakhir dengan foto bersama. Ia datang membawa misi besar suara dari masyarakat, guru, dan mahasiswa di perbatasan negeri ini. Dalam suasana akrab itu, dengan nada penuh kesungguhan, beliau menyampaikan satu harapan strategis yakni penegerian Universitas Pasifik (UNIPAS) Morotai. Bukan sekadar wacana, melainkan cita-cita panjang yang lahir dari kesadaran bahwa Morotai tidak bisa terus menjadi penonton dalam panggung pembangunan nasional.
Rusli Sibua tahu betul, sejarah tidak pernah menunggu daerah yang lambat. Rusli Sibua paham, untuk membuat Morotai maju, maka harus dimulai dari menata akarnya yakni pendidikan tinggi. Dalam kesederhanaan itu, beliau menyampaikan dengan nada penuh keyakinan bahwa UNIPAS Morotai bukan hanya kampus kecil di pulau terdepan, melainkan lokomotif perubahan yang akan membawa Morotai berlari bersama daerah lain di republik ini.
Dan di hadapan Wapres Gibran, kata-kata itu menemukan pantulannya. Sang Wapres, yang datang dengan semangat Asta Cita dari pemerintahan Prabowo-Gibran, mendengar dengan penuh perhatian. Salah satu Asta Cita yang menjadi ruh pemerintahan ini adalah Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kesetaraan Gender. Sebuah visi yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, bukan sekadar objek statistik. Ketika Rusli Sibua berbicara tentang UNIPAS, sejatinya ia sedang berbicara tentang masa depan ribuan anak muda di Morotai yang bermimpi menjadi guru, peneliti, dan pemimpin masa depan.
Pendidikan bukan lagi soal gedung dan gelar, melainkan tentang nafas kehidupan bagi daerah yang hidup di garis depan republik. Morotai, yang pernah menjadi pangkalan strategis dunia pada Perang Dunia II, kini ingin menjemput masa depan dengan pena, bukan senjata. Dari pulau yang dulu menjadi saksi perang, kini tumbuh tekad baru menjadi pulau pengetahuan.
Dalam pertemuan itu, hadir pula Rektor UNIPAS Morotai, Bapak Irfan Hi. Abdurahman, dengan membawa proposal penegerian kampus. Dokumen yang selama ini disusun dengan harapan dan air mata itu, akhirnya diserahkan langsung dan diterima oleh perwakilan resmi sespri Wapres RI. Sebuah momen kecil, tetapi mengandung makna yang besar. Mungkin tak ada sorak atau tepuk tangan panjang, namun di hati setiap orang Morotai yang mendengar berita itu, muncul rasa haru dan keyakinan baru bahwa perjuangan ini sedang menuju gerbangnya.
Bayangkan jika UNIPAS Morotai benar-benar menjadi perguruan tinggi negeri. Maka denyut kehidupan pendidikan Morotai akan berubah total. Mahasiswa tak lagi harus meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk mencari akses kuliah berkualitas. Dosen-dosen lokal akan memiliki ruang lebih luas untuk riset dan pengabdian. Ekonomi daerah pun bergerak yakni warung, kos, dan usaha kecil akan tumbuh seiring meningkatnya aktivitas akademik. Lebih dari itu, jiwa Morotai akan menemukan wujud modernnya yaitu jiwa yang menyatu antara tradisi dan ilmu pengetahuan.
Sinergi antara Wapres Gibran dan Bupati Rusli bukan sekadar simbol politik, tetapi representasi persilangan dua kesadaran; nasional dan lokal. Di satu sisi, negara hadir lewat kebijakan afirmatif untuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Di sisi lain, daerah bersuara dengan keberanian dan visi. Dan di titik temu itulah, pendidikan menjadi jembatan antara pusat dan pinggiran, antara cita-cita nasional dan kebutuhan masyarakat kepulauan.
Kita semua tahu, tanpa pendidikan, Morotai hanya akan terus hidup dalam romantisme sejarahnya. Tetapi dengan pendidikan, Morotai bisa menulis sejarah baru yakni sejarah tentang kebangkitan dari pulau kecil yang menyalakan cahaya ilmu bagi negeri. Karena itu, percakapan siang di D’Aloha Resort bukan sekadar makan siang kenegaraan, melainkan simbol lahirnya harapan baru.
Kini, bola ada di tangan pemerintah pusat. Namun suara rakyat Morotai sudah terucap dengan lantang; kami ingin maju, kami ingin negeri ini hadir untuk kami. Dan di tengah angin laut yang lembut siang itu, ada doa yang terucap tanpa suara semoga sinergi dua pemimpin ini benar-benar menjadi nafas baru bagi pendidikan Morotai, agar dari pulau ini kelak lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mencintai bangsanya dengan penuh kesadaran dan kebanggaan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.