Oleh: Ashgar Saleh
———
SEPAK bola bukan matematik yang hasilnya pasti sesuai keinginan kita jika menambahkan atau mengurangi sebuah jumlah. Karena itu, sebaiknya kita tak menghabiskan energi untuk kalkulasi apapun dengan mimpi yang tak pasti. Hasil pertandingan penentuan nanti malam antara Irak dan Indonesia sepenuhnya ditentukan oleh apa yang direncanakan dan apa yang dilakukan di lapangan oleh pemain.
Ada fakta bahwa penentuan sebelas pertama lawan Arab Saudi yang menentukan game plan Garuda memantik protes. Suasana panas di ruang ganti sebelum laga antara pemain dan pelatih maupun sesama pelatih jelas sebuah persiapan yang minor. Pastoor dan Landzaat tak setuju dengan pilihan Kluivert. Pemain tak nyaman. Hasilnya Garuda kalah.
Publik mempertanyakan pilihan Kluivert dan karena itu sebaiknya sebelas pertama malam ini bukan lagi pilihan coba-coba. Irak di atas kertas lebih tangguh dari Arab Saudi. Mereka dua kali mengalahkan Indonesia di putaran ke 2. Singa Mesopotamia berburu kemenangan karena dengan itu, mereka bisa menekan Arab Saudi di laga terakhir grup.
Ali Jasim dkk juga punya permainan yang impresif. Ball position mereka bagus. Kualitas individu maupun tim telah teruji. Mereka dalam fase percaya diri meraih poin penuh. Jangan sekalipun membiarkan mereka menguasai bola dengan bebas.
Tapi Garuda bukan tim yang sama saat kalah di putaran 2. Skuad kali ini mewah dan mahal. Yang menentukan sekali lagi adalah pilihan pemain terutama sebelas pertama untuk menjalankan game plan. Kluivert sendiri mengaku sudah punya rencana untuk menghancurkan Irak. Kita tunggu. Dan rencana itu setidaknya akan terbaca dari pilihan pemain yang mengawali sepak mula di King Abdullah Sport City Stadium dini hari nanti.
Marteen Paes yang sendirian menggendong kepak Garuda lawan Arab Saudi dengan 7 save jelas pilihan pertama. Kita menanti apakah Kluivert akan bermain dengan 3-4-3 warisan STY atau ngotot dengan empat bek sejajar dalam skema 4-4-2 sebagaimana ketika lawan Arab Saudi. Jika bermain dengan tiga bek, Jay Idzes lebih nyaman bermain dengan Rizky Ridho dan Justin Hubner. Trio ini selalu membawa Garuda menang saat bermain bersama.
Kevin Diks bisa bermain sebagai gelandang kanan yang bisa berfungsi sebagai RB jika kita ditekan. Di kiri, Dean James jadi pilihan jika Verdonk belum bisa tampil. James punya kecepatan dan kemampuan menyisir sisi kanan pertahanan Irak. Diks dan James bisa jadi tembok pertama untuk mematikan sayap Irak yang bagus saat penetrasi dan crossing ke area penalti kita.
Di tengah, Joey Pelupessy berduet bersama Thom Haye sejak awal. Joey diharapkan tidak lagi kebingungan seperti dalam laga lawan Saudi karena Mark Klok gagal jadi double pivot. Garuda wajib mengamankan lini tengah karena Irak punya banyak pemain bagus di area ini. Nathan yang dicoret tanpa alasan saat lawan Saudi bisa jadi deputy. Begitu juga Kambuaya.
Di depan, Kluivert wajib memainkan Ole Romeny. Dia punya kapasitas yang bisa menekan lini pertahanan Irak. Pergerakannya juga eksplosif membuka ruang. Ini memberi keuntungan bagi Miliano Jonathan dan Ragnar Oratmangoen di sisi flank yang kerap berganti posisi. Cutting inside keduanya diharapkan bisa membongkar tembok Irak. Egy dan Yakob Sayuri yang punya kecepatan bisa jadi opsi dari bangku cadangan.
Ini laga hidup mati. Menang jadi wajib. Karena itu sekali lagi, Kluivert tak bisa memasang pemain dengan formasi yang bukan aslinya. Posesition dan kolektifitas jadi kunci. Ketika menyerang, semua pemain bergerak membuka ruang. Passing progresif tak boleh salah.
Saat kehilangan bola, semua pemain fokus ke midlle blok untuk mengisolasi Irak agar tidak melakukan build up. Jujur saya berharap Verdonk bermain sejak awal malam ini karena selain cepat saat merebut bola, bek Lille ini punya umpan diagonal dan true pass yang memanjakan lini depan.
Selain game plan yang terukur, kontribusi pemain di lapangan jadi kunci penting. Mentalitas dan hasrat untuk menang adalah pendorong utama. Ini momen yang tak terulang lagi. Malam ini di Jeddah adalah final game. Kalah berarti mimpi tampil di Piala Dunia akan terkubur selamanya.
Jangan lagi menghibur harapan bahwa ada Piala Dunia 2030 seperti sering diungkapkan federasi. Empat tahun lagi mayoritas pemain kita saat ini akan berusia lebih dari 30 tahun. Hanya Justin, Miliano dan Ridho yang belum berkepala tiga. Generasi U-23? Lawan India di uji coba saja kita kalah. Kita bahkan tak ikut Piala Asia U-23 yang empat tahun lalu memberi podium semifinal untuk Garuda.
Sebagai anak bangsa, langkah Garuda saat ini tak boleh diperjualbelikan atas nama kepentingan apapun. Kesalahan melepas STY dan menggantinya dengan PSK harus dipertanggungjawabkan dengan prestasi Tim Nasional yang lebih baik. Hanya satu pilihannya. Kita harus menang. Dan biarkan Irak dan Arab Saudi saling bunuh di pertandingan terakhir sambil berharap ada mujizat untuk Garuda.
Debat tentang kepantasan pelatih pilihan Ketua Umum malam ini akan ada di fase paling kritis. Kalah berarti kiamat untuk ET. Kalah berarti Kluivert memang pilihan yang sangat salah.
Ketika kalah lawan Arab Saudi, banyak umpatan dan makian yang bertebaran di media sosial. Beberapa bahkan beraroma rasis. Saling tuding dan kemarahan itu akan semakin membuncah jika Garuda gagal.
Kita tentu berharap itu tak terjadi. Sesulit apapun laga malam ini, sebelas pertama dan semua yang akan bermain adalah pejuang. Mereka bisa mati di medan perang karena salah strategi atau menang karena bermain sesuai game plan dengan klinis. PSK harus membuktikan kapasitasnya dengan hasil. Bukan omon-omon basi.
Doa dan dukungan tak boleh kendur meski kita juga harus menyisakan sedikit ruang untuk ikhlas. Masih ada 90 menit tersisa untuk meraih mimpi. Sepak bola adalah realitas yang diperjuangkan. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.