Tandaseru — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate, Maluku Utara, mulai membuat rekayasa baru penanganan sampah yang masuk di 6 titik trans depo.

Penanganan sampah yang mulanya masih bertumpu pada pola lama yakni angkut dan buang diubah menjadi dikelola sebagai produk bernilai ekonomis.

Terobosan untuk menggantikan trans depo menjadi depo olah itu, sekaligus menjawab masalah daya tampung TPA Buku Deru Deru yang selama ini menjadi titik akhir pembuangan sampah di Ternate.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Kota Ternate, Syarif Tjan, menjelaskan, karena diubah menjadi depo olah, maka harus dibangun mini pabrik pengolahan sampah di masing-masing trans depo.

“Di setiap depo olah, sampah organik akan diubah menjadi kompos dan pakan maggot. Sementara sampah anorganik yang sulit dipilah akan dimanfaatkan menjadi bahan baku briket, paving block, dan batako. Dengan begitu, sampah tidak lagi berakhir sia-sia, tapi bernilai guna,” terang Syarif, Rabu (1/10).

Langkah ini, kata dia, sejalan dengan salah satu program prioritas Wali Kota Ternate. Yakni peningkatan pengolahan sampah secara partisipatif.

Program ini juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah sejak dari rumah tangga.

Ia mengatakan, DLH berupaya menghadirkan ruang partisipasi warga secara nyata. Sampah rumah tangga yang sudah dipilah akan lebih mudah diolah dan memberi manfaat langsung.

“Saat ini kami memulai dari trans depo Tubo. Di sana akan kami buat depo olah pertama. Saat ini kami sedang membangun rumah maggot di Depo Tubo sebagai langkah awal kami dalam upaya mereduksi sampah organik,” ucapnya.

Editor
Reporter