Oleh: A. Malik Ibrahim

_______

RESENSI BUKU

Herman Oesman, TERNATE Kotaku, Rumahku, Catatan-Catatan Sosiologis

(Yogyakarta, Penerbit Samudra Biru, 2025), xxxvi+128 halaman

PERTUMBUHAN kota bagaikan “superego” yang mendikte bawah sadar kita, yang sangat dikuasai ekonomi, khususnya pertumbuhan (growth). Tidak heran untuk menerangkan optimisme pertumbuhan kota – apalagi dengan bahasa profetis membuat orang lebih cenderung menelan apa yang ditulis oleh superego pertumbuhan.

Orientasi pertumbuhan merupakan mainstream yang dianut oleh hampir semua pihak – ahli ekonomi, politikus, penguasa, mahasiswa, pers dan lain-lain. Semua berpijak pada asumsi bahwa perekonomian yang tumbuh memiliki makna positif dan perekonomian yang stagnan – apalagi minus adalah negatif.

Dengan ini mau dikatakan bahwa transformasi pertumbuhan kota yang hendak dipertanyakan di sini bukan proses dari kelahiran sampai kehancurannya, melainkan mempertanyakan apakah pertumbuhan kota itu berlangsung secara alamiah ataukah dengan suatu perencanaan sebagai wujud kehendak bebas manusia.

Kajian perkotaan dari segi ruang (space and area) dalam hubungan ini berbicara tentang pola pertumbuhan kota yang sifatnya konsentrik, sektoral dan inti berganda, menilai pertumbuhan kota berlangsung secara alamiah yang mengikuti pola tertentu.

Seperti apa dan bagaimana lingkungan fisik dan sosial perkotaan mempengaruhi perilaku manusia. Dalam Mazhab Sosiologi Chicago, umum dikenal dengan sebutan sosiologi kritis — kota tetap dipandang sebagai seperangkat pusat kegiatan (concentric spatial zone) yang menjadi lokasi berbagai kegiatan penduduk perkotaan. Dan menurut Manuel Castells, “imajinasi sosiologis mazhab Chicago, tidak pernah mendefinisikan apa itu kota secara spesifik karena tidak berhasil membedakan kota sebagai entitas konseptual dan kota spesifik sebagai entitas konkrit”, (Surbakti, 1995 : 52-53).

***

Salah satu pertanyaan dasar yang perlu dijawab adalah, mengapa penting memahami logika pertumbuhan kota? Apa relevansi urbanisasi dengan keterbatasan lahan kota? Apalagi telah terbentuk citra kota sebagai pusat pertumbuhan segala hal yang diimpikan banyak orang.

McAuslan (1986), seorang pakar perkotaan modern, menggambarkan akibat obsesi yang terlalu menggebu membangun kota menjadi modern, tidak cuma menimbulkan “urbanisasi berlebih” dan perluasan horizontal fisik kota yang tak terkendali, tetapi juga melahirkan persaingan dan konflik yang makin intensif untuk mendapatkan spasial atau tanah. Di sini, perspektif sosiologi harus bisa melihat bagaimana struktur suatu masyarakat berkaitan dengan keseluruhan perubahan lebih luas yang sedang terjadi.

Demikian ditekankan oleh Dr. Herman Oesman dalam disertasinya “Satu Kota Dua Kuasa” (2015). “Herman menegaskan, “pergulatan dan perebutan rempah-rempah telah berubah dan bergeser. Bertransformasi menjadi perebutan ruang-ruang kota dengan lahan yang terbatas melalui berbagai kebijakan Pemerintah Kota maupun pihak kesultanan. Terutama di wilayah pasar dan terminal”.

“Lanjutnya“ penguatan dominasi akan otoritas kekuasaan antar lembaga kesultanan Ternate dan Pemerintah Kota Ternate telah memberi persepsi dan impresi bahwa di Kota Ternate masih terdapat dua wajah kekuasaan yang saling memperebutkan pengaruh kekuasaan dalam pembangunan” (hal.59).

Jika cara pandang ini dilakukan secara ekstrem akan muncul fenomena fetishme of space (terlalu mendewakan ruang) dan determinisme spasial karena mengabaikan pengaruh proses sosial dan distribusi kekuasaan terhadap pola distribusi spasial. Fenomena distribusi spasial dianggap sebagai penyebab, tetapi ketika ditelusuri lebih dalam, ternyata hanya akibat belaka.

Terdapat 4 faktor yang menyebabkan kota-kota tumbuh dan mati (ditinggalkan), yakni : (1) faktor kebijakan politik administrasi kepemerintahan, (2) faktor jaringan transportasi, (3) faktor pengembangan sumber daya ekonomi, dan (4) faktor alam. Ketika para elite kota masih sibuk berencana, pertambahan penduduk Ternate terus meningkat. Data Monografi Ternate 2013 menunjukkan, jumlah penduduk Ternate mencapai 215.906 jiwa, di mana jumlah laki-laki sebanyak 110.090 dan perempuan berjumlah 105.816 jiwa dan berada di sepanjang kawasan padat, (hal. 28).

Apa pun argumennya, saat ini ledakan penduduk menjadi masalah besar bagi Ternate untuk menampungnya. Tak hanya dari kelahiran, ledakan penduduk juga berasal dari urbanisasi dan migrasi dari pulau lain. Dengan hanya mengandalkan mekanisme pembangunan seperti hari ini, Ternate tidak akan mampu mengatasi permasalahan migrasi mendatang, terutama bila dilihat dari aspek kemampuan penyediaan sarana dan prasarana kota.

Padahal, menurut Herman, kecenderungan pertambahan penduduk di Ternate masih akan terjadi pada tahun-tahun mendatang. “Kota Ternate yang kecil ini terlihat begitu padat, sesak, dan sarat dengan problemnya”, (hal. 28).

Ternate tetap akan jadi pilihan urbanisasi. Akibatnya, sampah menjadi masalah yang tak teratasi.

“Permukiman-permukiman pun tumbuh secara liar, walau pihak Pemerintah Kota telah memiliki dokumen perencanaan, seperti RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), namun ini tidaklah cukup. Lahan-lahan permukiman telah mengambil sebagian kawasan pantai, membuat patok-patok sesukanya, mendirikan rumah di atas laut. Tak hanya itu, kawasan pekuburan juga dijadikan area permukiman warga, jalan raya menjadi area kepentingan privasi yang sangat mengganggu, bahkan saluran parit dan kali mati (barangka) juga dibangun menjadi hunian warga”, (hal. 29).

***

Buku TERNATE Kotaku, Rumahku, karya Dr. Herman Oesman ini mengisi hal yang luput ditangkap narasi dominan tentang kota dalam perspektif simbolisme perkotaan. Bagaimana penulis dengan “kritis” mencoba menangkap gerak tubuh kota yang memproduksi ciri khas kawasan perkotaan melalui catatan sosiologis. Baginya, kota bukan hanya persoalan sosiologi perkotaan, tetapi juga sosiologi secara umum (hal xxviii – xxix).

Apakah ini jalan buntu atau kekeliruan kita dalam berkota? “Dimensi interaksi sosial-kemasyarakatan, konflik dan perebutan lahan di ruang kota, maupun proses urbanisasi sama sekali sunyi dan jarang tersentuh. Akibatnya, sisi sosiologis dari sebuah kota begitu minim dan kehilangan kontekstualitasnya. Artinya, dapat dibayangkan, betapa kota Ternate begitu kecil dan semrawut (hal. 21-22).

Ternate hari ini disulitkan oleh kemacetan lalu lintas yang makin parah, semakin seringnya banjir, longsor dan pertambahan penduduk yang tak bisa dilayani oleh permukiman yang layak. Kota tumbuh tak terkendali, yangdiwarnai konflik dan kebingungan tata ruang. Bagi saya, konteks kegagalan berkota adalah karena lambatnya pemerintah kota merespons pertumbuhan kotanya.

Di balik pandangan yang futuristik, Herman Oesman menerobos jauh ke depan, menjadikan Ternate Kotaku, Rumahku, sesuatu yang realistis. Ternate seyogyanya menampilkan realitas dari stadia perkembangan kota humanis, sebuah stadia transisi kota impian, sekaligus kota kenyataan.

Ternate sebagai rumahku, adalah hunian, tempat orang-orang tua akan tenteram mengistirahatkan jiwa raganya. Kota yang memberi inspirasi anak muda memacu hari-harinya. Dan kota tempat anak-anak bermain dengan penuh kedamaian. Buku ini patut dibaca oleh birokrat, politisi dan aktivis pembangunan yang menginginkan perubahan. (*)