Oleh: Syahyunan Pora

Pengajar Filsafat pada Fakultas Ilmu Budaya Unkhair & Pemerhati Masalah Sosial-Budaya

_______

DALAM beberapa pekan terakhir ini sebagian warganet Maluku Utara dan masyarakat Ternate maupun Morotai pada khususnya tersuguhkan aksi kocak nan jenaka melalui bahasa verbal yang sarkastik oleh tingkah seorang kakek asal Morotai yang viral di media sosial ber-platform TikTok. Pola tingkah Kakek Ali berusia 90-an tahun ini dikenal dengan sebutan “Tete’
(ungkapan khas wilayah Timur yang merujuk pada sosok sepuh seorang laki-laki seperti Opa atau Mbah Kakung dalam istilah Jawa) yang begitu cepat “naik daun” dan merebut hati sebagian penggemarnya di kalangan warganet Maluku Utara. Sejumlah konten akun tiktok warga lokal menyajikan sosok sang tete (kakek) yang sering diajak bercerita santai lalu perlahan-pahan dipancing emosinya. Tak ayal umpatan berupa kata-kata makian (mumake) terlontar dari mulutnya secara spontan sebagai wujud ekspresi perlawanan atas berbagai tuduhan yang tidak sang tete lakukan. Cerita berupa tuduhan terhadap Tete Ali itu, memang sengaja dikarang oleh lawan bicaranya. Sontak saja Tete Ali meluapkan emosinya dengan mengeluarkan kata-kata memaki atau mengumpat dengan menggunakan istilah khas lokal/daerah yang kerap mengandung pro dan kontra di kalangan warganet Maluku Utara.

Tulisan ini tidak secara spesifik merambah pada ranah etis dan moral dari sejumlah kata-kata makian atau mumake/mamake yang dilontarkan oleh tete Ali. Namun tulisan ini membahas pada kekuatan viralitas media sosial dalam konteks lokal yang mampu menggerakkan penggemarnya dari dunia maya ke panggung nyata laiknya seorang selebritas. Lagipula dalam konteks budaya Indonesia Timur, semisal di Maluku/Maluku Utara, Papua dan sebagian Sulawesi (Utara), berbagai referensi penelitian yang diinterpretasikan secara filosofis terkait
ungkapan makian atau mengumpat dengan kata-kata yang dianggap kasar adalah bagian dari manifestasi tradisi atau kebiasaan yang kerap terdengar dalam relasi sosial budaya orang-orang Indonesia Timur. Di samping kata-kata makian atau mumake (istilah lokal) dipahami tidak sekadar menyalurkan emosi melalui kata-kata, melainkan penguat identitas serta ekspresi keakraban dalam kohesi sosial yang (terlanjur) dianggap wajar dalam keseharian. Sementara pada konteks budaya populer, seperti yang terlihat dalam beberapa konten Tete Ali, kata-kata makian atau mumake yang dilontarkan oleh tete Ali bisa dianggap lebih pada bentuk respons
terhadap provokasi dan mempertegas eksistensi nilai kejujuran sebagai bentuk perlawanan tete Ali pada sesuatu hal yang tidak ia lakukan. Mudahnya kata-kata umpatan dan kata-kata makian tete Ali memang tidak secara sengaja terlontar melainkan secara spontan oleh karena ada yang memantik emosi Tete Ali, begitu juga karena terpancing dengan berbagai aksi lisan bersifat “merundung” hingga berujung pada reaksi kata-kata verbal yang sarkastis.

Viralitas dalam Budaya Populer Kita

Di tengah gemuruh konten digital yang cepat berubah dan penuh sensasi, siapa sangka muncul sosok viral yang menjadi pusat perhatian yakni Tete Ali. Seorang warga biasa dari pelosok Maluku Utara, dengan tutur kata lugas dan logat daerah yang kental, serta ekspresi jujur tanpa polesan, kini menjadi magnet ribuan penonton dan pengikut lokal saat live di TikTok. Meski demikian yang membuat Tete Ali lebih dari sekadar fenomena viral adalah satu hal:
keberaniannya menjunjung kejujuran, bahkan saat emosinya dipancing habis-habisan oleh partner antagonis yang kerap disapa dengan Om Otu, Om Ogono maupun sejumlah konten kreator lokal lainnya. Pada kesempatan lain sesekali Tete Ali diperhadapkan dengan para konten kreator wanita saat live Tiktok dengan alur cerita yang searah semisal bercanda mengenai percintaan lalu kemudian menuduh Tete Ali selingkuh atau melakukan hal-hal tercela kepada wanita lain yang kesemuanya dibungkus kelakar, tapi cukup untuk membuat Tete Ali naik pitam. Dari ekspresi marahnya Tete Ali itulah, publik justru melihat sisi keluguan dan ketulusan yang menggelitik, dan itulah mengapa akun Tete Ali ditonton banyak orang.

Fenomena Tete Ali ini selaras dengan esai filosofis Adorno dan Horkheimer dalam “The
Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception” (1944). Figur-figur viral adalah bentuk dari bagaimana identitas dikonstruksi oleh media, dan mungkin hanya dikonsumsi oleh sebagian otoritas formal namun pada otoritas non formal tokoh yang viral itu membawa misi yang sama bagi para pengikutnya. Namun perlu diingat bahwa algoritma viral yang membuat sesorang atau suatu peristiwa itu kondang atau terkenal, tak selamanya membuat ia tetap tenar. Ada saat meredup bahkan menghilang seiring titik jenuh konten yang terus-menerus dikonsumsi oleh khalayak dengan materi “yang itu-itu saja”. Semacam “pekerjaan rumah” buat tim kreator Tete Ali, termasuk Sibli Siruang, salah satu pemilik akun TikTok yang juga turut memviralkan tete Ali. Harapan untuk dapat menyiasati konten Tete Ali secara variatif namun masih tetap berakar pada simbol-simbol lokalitas etnik yang berdimensi etis adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan kedepannya. Apalagi tete Ali sejatinya mampu berkomunikasi
dua arah, bernyanyi bahkan juga menari tidak hanya di ruang maya tetapi juga di ruang publik yang sesungguhnya.

Pesan Moral di Balik Amarahnya “Tete Ali”

Viralnya sebuah konten tidak hanya akun Tete Ali di media sosial akan selalu menimbulkan berbagai tanggapan dari para warganet, entah dari yang pro hingga yang kontra, dalam dunia maya maupun dunia nyata dari yang setingan maupun yang alamiah, dari sosok yang sudah tua maupun anak belia, dari yang pria, wanita ataupun waria, selalu saja akan menimbulkan pro dan kontra selama bersentuhan dengan khalayak ramai melalui akun media sosial. Bukan bermaksud untuk mengesampingkan nilai-nilai etika dan moral bahasa, sehingga seolah-olah membenarkan umpatan dan kata-kata makian (mumake) yang menjadi “ciri khas” konten Tete Ali, lalu kemudian, begitu mudah sebagian dari kita akan beranggapan bahwa “yang penting menghibur”. Tidak, tidak seperti itu. Hukum algoritma media sosial juga memiliki “Term of Reference”-nya, sehingga nilai edukasi yang terdapat pada sebuah konten, penentuannya juga ada di jari-jari warganet. Meski demikian sekiranya dari konten tete Ali ada beberapa hal menarik yang mungkin bisa dipetik sebagai pesan moral melalui kata-kata Tete Ali di sela-sela amarahnya yang meledak-ledak.

Di antara kata-kata Tete Ali yang dapat dikutip sebagai pesan moral “Saya kalu
bapinjam orang pe doi tu, saya tidor siang malam tara bisa tasono, saya bapikir. Saya urus doi tu la saya ganti” (saya kalau pinjam duit orang, siang malam, saya tidur tidak lelap, saya berpikir, saya usahakan cari duit supaya saya ganti. Atau “saya kase ingatang pa saya pe ana ana, jangang ngoni pancuri orang pe barang, kalo ngoni suka minta, kalo dong kase baru ambe” (Saya mengingatkan anak-anak saya, jangan kalian mencuri milik orang lain, kalau kalian suka minta, nanti kalau dikasih baru ambil). Dalam konteks persahabatan, ungkapan Tete Ali juga cukup menohok dengan Kata kata “ Tamang kong bagini saya pastiu” (Teman kayak begini saya bosan). Atau “Ngoni ni hianat pa saya i? (Kalian ini ni khianati saya ya?).

Demikianlah Tete Ali dengan segala kekurangan maupun kelebihannya. Di usia beliau yang begitu “senja” banyak hal yang telah beliau lalui dengan pernak-pernik kehidupan yang tidak mudah tentunya. Tete Ali memahami hidup ini seperti yang beliau katakan pada kesempatan diundang dalam Podcast Munara Corporate bersama A2W Entertainment. Tete Ali berujar: “Saya kan biasa tukang babasedu deng tamang-tamang, yang penting basedu jang pake masalah to? Supaya tong biking gagarap la tong tatawa rame-rame” (Saya ini kan orangnya suka bercanda dengan teman-teman, yang penting bercanda jangan dengan masalah to? Supaya kita buat lucu-lucuan biar kita tertawa ramai-ramai). Baik dan buruknya konten Tete Ali di medsos, akan kembali kepada siapa yang menilai dan bagaimana cara menilainya. Apakah penilaian itu tidak tergantung pada seberapa kualitas nilai yang melekat pada individu si pemberi nilai? Waullahualam bissawab, Bisa jadi jika ditanyakan pada kru “Tete Ali & Friends” secara singkat dan tegas mereka akan menjawab: “Memang”..!! (*)