Oleh: Anwar Husen

Tinggal di Tidore

_______

Saya percaya, orang yang punya kemandirian berpikir, dia sering menemukan “pembenaran”nya di kemudian, dari pendapat para ahli, tanpa mengetahuinya sedari awal, apalagi berniat plagiasi.

TAKSONOMI Bloom, oleh Benjamin Samuel Bloom, disusun secara hierarki dari level kognitif terendah sebagai dasar, mengingat (remembering), hingga level tertingginya, mencipta (creating).

Seseorang yang berpendidikan doktoral, harus melewati critical mass, fase tertinggi dalam pengembaraan intelektualnya, kemampuan mencipta. Dia menemukan sudut orisinalitas lain dengan teorinya, sesuatu yang baru dan makin menjauh dari kutipan. Temuannya terhadap sesuatu hal atau objek yang baru tadi, menjadi rujukan bagi kaum intelektual lainnya. Sedemikianlah, ilmu pengetahuan berkembang dan bertransformasi. Ini ceritanya orang kampus, menulis dan beragumentasi ilmiah.

Di level organisasi mahasiswa semacam organisasi Mahasiswa Islam (HMI) saja, ada potongan ruh mission-nya, membentuk insan akademis, pencipta, dan pengabdi.

Dulu ketika masih mahasiswa, saya berupaya dan berlatih bagaimana menyusun sudut pandang, argumentasi, dan struktur logis dalam membuat sebuah tulisan, khususnya ilmiah populer di media cetak. Bisa menulis di media Manado Post dan Cahaya Siang saat itu, sekitar 33 tahun lalu, adalah sebuah kemewahan. Menanti bisa mengecek tulisan kita bisa di muat atau tidak, adalah hari-hari yang panjang. Jika dimuat media, bisa serasa anda menjadi setara artis top di kampus. Dan jika belum, berlatih lagi. Maklum, media juga punya syarat-syarat tertentu untuk tulisan laik muat. Yang sedikit lucu, teman saya memulai, hingga mengakhiri draft tulisan awalnya, berisi semua kutipan. Kutipan pendapat berbagai ahli. Saya agak bingung membaca rancangan kasarnya karena ada juga ahli yang saya baru dengar namanya sepanjang pernah membaca. Tapi saya memahami, mungkin kita beda disiplin ilmu di kampus.

Sehabis kuliah, jadi guru. Ketika awal-awal menjadi guru itu, di sebuah SMAN di Tidore, di akhir tahun 90-an, ada fakta menarik dan terkesan lucu, yang saya masih ingat. Membuat soal tes dengan panduan kisi-kisi. Jadinya, bisa dengan mudah menentukan jawabannya duluan, baru merangkai soalnya. Mirip pengungkapan kasus hukum yang sering terjadi, statusnya tersangka duluan, perbuatan melawan hukum nanti dicari.

Di kasus lain, ada juga yang terkesan begitu mudah menulis buku, mesti terlihat sangat jarang menulis gagasannya di media tentang “masalah” yang jadi isi bukunya.

Setiap orang, juga punya kelebihan. Ada yang senang merangkai gagasan-gagasan menjadi kumpulan tulisan dalam sebuah buku, tetapi ada juga mengulas secara detail, meski dengan tema yang berat-berat, menjadi alur yang sistematik dan logis. Semua itu tak jadi masalah, selama kita punya kemandirian menyusun argumentasi logis, mampu mengaitkan konteks, sistimatik, dan paling penting, menghindari jadi plagiasi. Mendingan mengutip, menyebut sumber, jauh lebih gentleman.

Membaca ulasan seorang profesor tentang sesuatu hal atau topik, terkesan begitu sederhana dan ringan, tetapi memberi bobot, perspektif, dan alur yang utuh.

Ketika mengikuti diklat jurnalistik dulu, ada mentor berpesan, rumus 5W-1H itu, bisa jadi baku dan relevan saat ini, tetapi di masa depan belum tentu. Seorang sopir yang membeli koran, ketika berhenti di lampu merah, dia mungkin hanya butuh informasi dari headline peristiwa kebakaran yang di suguhkan media saat itu, “di mana” dan “siapa” saja korbannya, untuk memastikan bukan keluarga, atau kerabatnya. Cukup sampai disitu, dan nyetir lagi. Kalau sang sopir ini berlama-lama mengejar 5W-1H, bisa di tabrak kendaraan di belakangnya, karena sudah lampu hijau di traffic light.

Apa yang dipesankan sang mentor tadi, makin nyata era ini, ketika makin menjamurnya platform digital. Suka atau tidak, dia mempengaruhi sikap dan prilaku konsumen pembaca. Menyiasati kebutuhan informasi dan implikasinya terlihat makin praktis, pragmatis, tapi juga sekaligus rileks.

Media kompasiana.com berbagi tips menulis, antara lain, menulislah seperti mengobrol, gaya santai lebih disukai. Juga, pakai pengalaman sendiri, tulisanmu akan jadi unik dan autentik. Selebihnya, judul yang menarik karena menjadi pintu masuk.

Tulisan pendek saya yang rutin di muat media tandaseru.com, hingga yang lainnya, mungkin telah di angka ratusan, di rentang kurang lebih 2 tahun. Sebahagiannya telah dipilih untuk diterbitkan menjadi buku, yang awalnya diniatkan sekadar menjadi dokumentasi pribadi. Selebihnya, sikap dan pandangan, yang diharapkan bisa menjadi semacam kitab panduan dan warisan nilai bagi anak-anak dan keluarga saya.

Gaya menulis, bisa jadi adalah made in setiap orang. Tetapi sedikit banyak saya terinspirasi dari gayanya Amien Rais, ketika menulis di Kolom Resonansi Harian Republika, di awal-awal terbit dulu. Saya menyukai gayanya, yang bertutur apa adanya. Dia hanya coretan pendek berisi komentar dan tanggapan atas sesuatu masalah. Tetapi bagi saya, kelebihannya pada kemandirian ide dan gagasan. Saya memang tak sekelas seorang Amien Rais, tetapi saya pikir kita percaya bahwa keluasan cakrawala dan sudut pandang, kedalaman kontemplasi, dan kepekaan melihat celah masalah, itu kuliahnya bukan di kampus. Saya percaya, orang yang punya kemandirian berpikir, dia sering menemukan pembenarannya kemudian dari pendapat para ahli, tanpa sedikitpun mengetahuinya lebih awal, apalagi berniat plagiasi. Dari sini, setiap orang sering dikenali sabagai yang berkarakter pemikir.

Potensi yang ada di otak kita sebagai karunia Tuhan yang maha dahsyat, seperti yang sering terbaca dari banyak tulisan karib Taufiq Fredrik Pasiak, seorang ilmuan Otak hebat, terlalu luas untuk diklaim menjadi milik hanya segelintir orang. Selebihnya saya percaya, menulis dengan bertutur, adalah media mengeksplorasi potensi ide, gagasan dan kemandirian berpikir yang lebih kuat mengalir dan apa adanya. Wallahua’lam. (*)

(Menyambung jeda obrolan telpon di dini hari, beberapa waktu lalu, dengan karib Dr. Guntur Alting di Jakarta. Sekaligus, menyahuti buku baru berjudul, “Sejenak Hening”, dari kumpulan esainya yang akan terbit nanti)