Oleh: Bung Opickh

Penulis Buku

________

KATA pilkada merupakan akronim dari pemilihan kepala daerah secara langsung yang sejatinya merupakan ruang kompetisi terbuka bagi setiap warga negara untuk tampil mengisi ruang kepemimpinan suatu daerah. Ia merupakan implementasi dari perjalanan panjang dalam sejarah demokrasi; from the people by the people for the people (Abraham Lincoln).

Sebelum lahirnya ide negara yang demokratis, pemerintahan monarki dan despotisme pemimpinnya hanya bisa diisi oleh para bangsawan yang disebut aristokrat dan orang-orang kaya disebut platokrasi.

Sehingga pemerintahan yang mementingkan kelompok, berbagi jatah kekuasaan sesuka hati, perbudakan dan kezaliman terhadap rakyat lazim ditemui kala itu. Itulah mengapa Socrates pada masanya selalu memperdebatkan kebijakan-kebijakan pemimpin yang dianggap menyimpang dari etika, moralitas dan kepentingan rakyat.

Dia bahkan secara terang-terangan menyampaikan bahwa pemimpin sejatinya mesti dipilih melalui sebuah proses musyawarah atau pemilihan, bukan turun temurun atau karena kehendak dewa-dewi. Akhirnya Socrates dianggap merusak pikiran generasi dan tradisi nenek moyang bangsa Yunani; ia diberi hukuman mati (meminum racun).

Pikiran Socrates menetes kepada salah satu murid terbaiknya yaitu Plato. Plato kemudian menulis sebuah buku yang berjudul “The Republic”. Ada ide dalam buku itu tentang negara utopia; yang berkeadilan dan penuh kemakmuran atau negara yang ideal. Menurutnya, untuk mencapai negara persemakmuran hanya bisa terwujud dengan konsep “The King of Philosophy” pimpinan yang bijaksana atau seorang pemikir (filsuf).

Sebab lebih mudah melahirkan negara yang adil daripada mencetak individu yang adil. Baca bukunya Betrand Russel, A history of Western Philosophy (146-160, London: 1946). Di era modern dan digitalisasi saat ini, hampir mayoritas orang terseret dan bahkan terlibat langsung sebagai pelaku dalam perhelatan pilkada.

Tetapi celakanya politik dipandang sebagai sesuatu yang akrab dengan permainan tipu menipu, kotor dan berbahaya. Pada akhirnya mereka yang menang cenderung mengutamakan kepentingan kelompok dan membagi-bagi jatah kekuasaan; jabatan, proyek dan akses khusus. Itulah yang saya sebut Paket Pilkada. Jika begitu maka kita tak beda jauh dengan orang-orang di zaman Yunani kuno atau tirani.

Memang dalam perspektif perjuangan, setiap pemenang pasti senang. Tetapi kita mesti memahami bahwa tujuan demokrasi atau pilkada adalah untuk melahirkan pemimpin yang bijaksana, di tangannya terlahir program-program yang bermuara pada keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Dan yang kalah pasti tereleminasi, diasingkan dan tidak mendapatkan porsi yang istimewa dalam kekuasaan dan bahkan berakhir tragis. Itulah yang saya sebut “Bom Pilkada”. Padahal menurut Hans Kelsen, bahwa dalam demokrasi yang kalah atau minoritas hendaknya mengakui kemenangan mayoritas dan yang menang mesti menghormati minoritas karena semuanya dilindungi oleh konstitusi untuk mendapatkan kehidupan yang layak sebagai warga negara dengan tidak mengabaikan aspek keadilan dan kesejahteraan sosial.

Oleh karena itu, sebagai pesan kepada para pemenang gubernur, bupati dan wali kota hendaknya menjadi pemimpin yang bijaksana. Memberi parsel kepada orang-orang yang telah berjuang tetapi tidak mengabaikan rakyatnya. Jadilah seorang yang sedikit bersifat kenabian atau filsuf yang bijaksana, jika tidak minimal di rak meja anda ada sebuah buku yang berjudul “Demokrasi”.

Perlakukanlah mereka yang kalah sebagai pelajaran rehabilitas agar kelak mereka memahami dengan siapa mestinya mereka berjuang. Sebab tak ada negara yang adil jika dibangun dengan dendam dan hanya satu jalan menuju negara yang adil dan makmur yang “perdamaian”. Begitu kata Nelson Mandela.

Untuk mereka yang kalah terimalah kekalahan anda sebagai bagian dari perjalanan kehidupan untuk menemukan jalan dan cerita yang baru. Itulah manusia, satu-satunya makhluk yang bisa berpikir secara rasional, kata Aristoteles. Bisa berbicara dengan etika dan bertindak dengan moralitas, kata Immanuel Kant.

Animal speaking, hewan yang menciptakan bahasa, kata Steven Pinker. Satu-satunya makhluk yang bisa bermanfaat bagi yang lain, kata Ibnu Sina. Makhluk yang dapat berdamai dengan yang lainnya, kata Rene Descartes, dan makhluk yang bertuhan, kata Imam Al Gazali.

Jadi, pilihannya hanya satu; mari membangun daerah kita dengan pikiran jangan dengan sentimen. Mari bersatu padu kembali tetapi yang kalah mesti antri, sadar bahwa anda adalah barisan terakhir untuk menerima paket keadilan dan kesejahteraan. Bahwa tetap dapat tapi taju posisi dan eksistensi di mana anda berada di kegelapan atau di bawah cahaya kemenangan.

Selamat dan sukses, pelantikan gubernur dan wakil, bupati dan wakil, wali kota dan wakil wali kota se-provinsi Maluku Utara. (*)