Oleh: Anwar Husen

Tinggal di Tidore

_______

Dua sosok hebat yang setara, Jurgen Klopp dan Arne Slot.

Di sekitar setahun lalu, ketika coach Jurgen Klopp, memilih tak melanjutkan kariernya di Liverpool, jagat sepak bola dunia serasa berguncang. Betapa tidak, kehadiran sang legenda Liverpool ini telah membayar kontan mimpi klub hebat itu dengan berbagai gelar dan levelnya di rentang 9 tahunnya di Anfield.

Sebagaimana kebiasaan orang Jerman, yang lebih suka menyampaikan maksudnya lebih awal agar tak menimbulkan kejutan. Pengumuman itu disampaikan langsung Klopp, di pekan ke-21 Premiere League, ketika Liverpool sedang memuncaki klasemen di musim 2023/2024. Dia tak lagi memperpanjang kontraknya yang tersisa beberapa tahun lagi. Media Theathletic.com menulis judul bahwa berita Klopp tinggalkan Liverpool lebih buruk dari kematian Ratu Inggris. Sebuah deskripsi yang benar-benar mencengangkan.

Harapan agar tak ada yang kaget ketika Klopp pergi, justru berbalik. Publik sepak bola Liverpool, Inggris, hingga penggemarnya seantero jagat, “berduka yang mendalam”. Tak menduga keputusan yang mendadak itu, bisa dibuat sang manajer legendaris. Saya mendeskripsikannya dalam sebuah tulisan pendek kala itu, berjudul “Liverpool, Jurgen Klopp dan Kita: Antara Prestasi dan Peristiwa”, yang diterbitkan media ini pada 31 Januari 2024.

Keputusan Klopp hengkang dari Anfield itu membuat manajemen Liverpool bergerak cepat menemukan penggantinya. Banyak figur yang dikaitkan untuk posisi paling “berisiko” ini, setelah Klopp menyodorkan standar tinggi dalam bentuk prestasi dan ekspektasi publik bola. Pilihan itu, akhirnya jatuh pada Arne Slot. Meski reputasi Slot ketika menjadi pemain hingga pelatih dipandang tak cukup menterang untuk klub selevel Liverpool hingga Premiere League yang dianggap kompetisi paling kompetitif di seantero jagat.

Karier pemain hingga sebagai pelatih, relatif terasa begitu “domestik”, hanya di Belanda. Pada 2017, dia masih sebagai asisten pelatih AZ Alkmaar. Baru di 2019, dia dipercaya sebagai manajer utama di klub itu. Kemudian pindah ke Feyenoord di musim 2021/2022 dan langsung membawa timnya ke final UEFA Conference, yang dikalahkan AS Roma asuhan Mourinho. Di musim berikutnya, dia berhasil meraih trofi Eredivisie dan piala KNVB. Praktis tak terlalu istimewa ekspektasi publik sepak bola umumnya.

Tapi hasil sementara di tahun pertama Arne Slot di liga Inggris sudah kita tahu. Hingga di pertandingan ke 24, Liverpool secara meyakinkan bertengger di posisi teratas klasemen dengan koleksi 57 poin, terpaut jauh dari rivalnya Arsenal, 7 poin. Di Carabao Cup, Liverpool akan meladeni Newcastle United di partai final nanti. Dan di kasta tertinggi antarklub Eropa, Liverpool sedang bertengger aman di 16 besar sebagai pemuncak klasemen dengan 21 poin, hasil dari 8 kali pertandingan.

Tapi fakta tragis terjadi di babak keempat FA Cup. Liverpool menelan kekalahan 1-0 oleh tim yang sedang berjuang di dasar klasemen Championship, Plymouth Argyle. Tak jelas apa alasannya, Slot menurunkan pemain pelapis, termasuk memarkir Mohamed Salah, Van Dijk dan Gakpo. Sebuah kekalahan yang jadi pemantik inspirasi tulisan ini.

Harapan untuk bisa meraih quadruple di musim ini pupus. Meski begitu, peluang Treble winner masih terbuka lebar.

Lain dengan di sini, publik bola kita dikejutkan dengan keputusan “mendadak” beberapa waktu lalu oleh PSSI. Pelatih tim nasional kita asal Korea Selatan, Shin Tae-yong (STY), dicopot setelah beberapa tahun menukangi dan memperpersembahkan prestasi fenomenal. Kita semua tahu, prestasi pelatih yang pernah membuat sejarah di level dunia bersama timnas negaranya ini bersama timnas.

Daya kejut dari keputusan PSSI ini terbilang luar biasa. Tak diduga banyak kalangan, meski rumornya telah menyebar terbatas setelah timnas senior proyeksi piala dunia 2026 itu dikalahkan timnas China di kandang mereka lalu. Fakta ini dirasa sebagai sebuah antiklimaks usai menahan imbang tim langganan piala dunia, Saudi Arabia, di kandang mereka.

Cukup lama jadi trending topic di berbagai platform media sosial. Beragam tanggapan dan komentar bermunculan. Dan publik bola kita terlihat menunggu waktu yang cukup lama untuk bisa move on dengan fakta keputusan PSSI ini. Saya ikut mengomentari sebuah unggahan di Facebook bahwa PSSI pasti tak serampangan dan tidak menghitung cermat keputusan yang beresiko besar ini. Berisiko, karena timnas kita sedang di peringkat ketiga fase grup dan sangat kompetitif, soliditas tim yang terlihat cukup baik, ditambah waktu yang tersisa untuk laga krusial berikut melawan Bahrain yang sangat kasib. Tetapi bagi saya, PSSI pasti tahu, mereka sedang mempertaruhkan reputasi negara ini dengan keputusan paling berisiko. Ada alasan tertentu yang mungkin sengaja tak dipublikasi luas dan memunculkan berbagai spekulasi, cacian hingga sumpah serapah dari netizen.

Tak lama, datang Patrick Kluivert. Mantan punggawa timnas Belanda itu datang lengkap dengan asistennya. Ada Alex Pastoor, Gerald Vanenburg dan Denny Landzaat. Meski punya prestasi sebagai pelatih yang tak mentereng, Kluivert dipercaya punya keunggulan lain. Dan nama-nama timnya tadi adalah jaminannya. Menyimak reputasi dan kiprah para asistennya, juga sedikit bikin lega dan memberi harapan baru. Seperti apa performa dan rencana besar tim pelatih ini, jawaban yang harus pasti, tak bisa menuai hasil buruk saat bersua dua tim kuat di depan mata, Australia, yang juga langganan piala dunia, dan Bahrain.

Antara Tim Kluivert dan Paket Sherly-Sarbin

Dunia sepak bola profesional seringkali “aroma”nya berhimpitan dan mirip dengan fakta politik, khususnya pemilihan pemimpin. Lebih sempit lagi, pemilihan kepala daerah. Mengelola institusi induk sepak bola selevel PSSI secara nasional hingga klub-klub besar mirip mengelola sebuah daerah. Poinnya adalah “mengelola” mimpi dan ekspektasi publik. Klub-klub besar, bahkan punya aset dan sumber yang lebih besar ketimbang sebuah daerah yang dipimpin kapala daerah di berbagai level, bahkan mungkin negara tertentu.

Di Maluku Utara, di pemilihan kepala daerah di level gubernur beberapa waktu lalu, adalah momentum yang paling bikin heboh. Pemenang kontestasi ini sudah kita tahu, pasangan Sherly Tjoanda-Sarbin Sehe. Meski kita tahu juga, banyak fakta implikasi kehadiran calon gubernur perempuan, hingga dianggap berlatar tak koheren dengan kondisi sosiologis macam-macam, yang jadi pemantiknya. Tetapi apapun bentuk dan alasan “penolakan” itu, hingga mungkin keraguan atas kompetensi kepemimpinannya, sistem demokrasi di negara ini menghendaki adanya kesetaraan hak politik setiap warga negara. Itu tak bisa diabaikan, suka atau tidak. Sekali lagi, apapun alasannya. Esensi bentuk “paket” pasangan calon (paslon) itu implikasinya lebih pada “pertanggungjawaban” yuridis karena diatur oleh regulasi tentang pemilihan kepala daerah. Anda seorang diri, sudah pasti tak bisa mencalonkan diri. Betapapun anda memenuhi syarat-syarat lainnya dan punya uang segudang. Sedangkan soal pembagian porsi kewenangan dalam pengelolaan pemerintahan itu lebih besar pada bobot teknisnya.

Bagi saya, ada kemiripan ragam persepsi minor publik atas hadirnya Patrick Kluivert dan para asistennya untuk menukangi timnas kita dan Sherly-Sarbin sebagai gubernur (yang notabene seorang perempuan) dan wakil gubernur Maluku Utara. Hanya saja perbedaannya, Kluivert dan timnya hadir saat kondisi timnas kita bisa dibilang berada pada kondisi dan kecenderungan prestasi yang positif. Bisa dibilang juga, STY dalam posisi yang sedang on fire. Sedangkan paket Sherly-Sarbin hadir dengan pembanding yang sedikit berbeda, Maluku Utara dalam situasi “terpuruk” karena diterpa berbagai masalah hebat.

Jurgen Klopp, sang fenomenal itu, kepergiannya ditangisi jutaan pengagumnya. Dan sejauh ini, Arne Slot telah membuktikan bahwa Liverpool tak salah memilihnya. Meski juga, Slot berpeluang “menguburkan” kenangan manis dan pamor yang ditinggalkan Klopp. Itu karena masing-masing dari mereka telah membuktikan kehebatannya, saling melengkapi, melanjutkan prestasi dan merawat pamor. Jurgen Klopp dan Arne Slot, dua sosok yang bisa dibilang mewakili gambaran ideal, “suksesi” kepemimpinan sebuah organisasi pada sosok yang tepat, saling mengokohkan prestasi dan reputasi.

Lantas bagaimana menilai, memberi bobot hingga memaknai “indikator” sukses awal Patrick Kluivert beserta timnya dalam mengesplorasi kekuatan timnas kita dan paket Sherly-Sarbin dalam menjawab harapan warga Maluku Utara atas kinerja kepemimpinan dalam visi-misi dan program prioritas mereka, kurang lebih begini analog dan logika matematiknya. Jika hasil positif bisa didapat timnas kita, di laga tandang ronde 3 melawan timnas Australia di 20 Maret nanti, bisa jadi setara 50 persen optimisme, mimpi hingga harapan publik bola kita terhadap kinerja Kluivert dan timnya akan berubah positif. Itu “setara” pula, menggeser 50 persen “cerita” kedigdayaan seorang STY. Dan andai bisa mendapat hasil positif pula, saat laga kandang menghadang Bahrain di 25 Maret, mungkin pamor sang pelatih legendaris Korea Selatan itu akan perlahan dilupakan. Karena itu adalah lokus yang jadi indikator publik bola kita. Mengadang Australia dan Bahrain adalah indikator “100 hari kerja” Kluivert dan timnya. Mungkin sedikit mirip prinsip dasar hukum Archimedes, gaya apung benda.

Nyaris sama dan sebangun, jika ukurannya di 100 hari kerja kepemimpinan paket Sherly-Sarbin yang jadi indikator, maka hasil survei kepuasan publik dari lembaga survei yang kredibel atas kinerja mereka nanti adalah jawabannya.

Bedanya, Kluivert dan timnya berangkat dari fakta “titik nol” kondisi timnas yang telah relatif baik ditinggalkan STY. Paket Sherly- Sarbin saja yang “sedikit sial”, memulainya dengan membangun dan menatanya kembali dari “puing dan reruntuhan” yang tersisa. Wallahua’lam. (*)