Kedua, tragedi Bobong telah mempertontonkan watak dan karakter politisi kita. Di tengah suasana duka dan proses evakuasi salah satu rekan sesama ketua partai, mereka justru menggelar konferensi pers mengumumkan pengganti Benny Laos. Sikap dan perilaku politisi demikian sangat jauh dari etik dan adab, rasa simpati dan empati terhadap keluarga korban. Mirisnya lagi politisi itu paham dan bahkan berasal dari partai Islam di mana Islam mewajibkan setiap jenazah segera makamkan setelah dimandikan, dikafankan dan disalatkan.
Perilaku tersebut menimbulkan persepsi publik bahwa politisi kita sedang melakoni drama Korea dengan memanfaatkan rasa duka untuk menjalankan politik transaksional. Sesuatu yang wajar mengingat Benny Laos adalah calon kepala daerah terkaya di Indonesia. Lebih ironis lagi publik dengan candaan sarkastis menyebut politisi sedang memancing di air keruh.
Fenomena tersebut mengingatkan saya akan sindiran filsuf Immanuel Kant yang menyebut adanya dua watak binatang terselip insan politik; merpati dan ular. Politisi memiliki watak merpati yang lembut, penuh kemuliaan karena punya idealisme tapi juga mempunyai watak ular, licik dan jahat yang selalu memangsa siapa saja termasuk merpati. Celakanya yang sering menonjol dalam diri politisi adalah sisi ular ketimbang watak merpatinya. Metafora sang filsuf sudah menjadi pemandangan dalam belantara politik Indonesia, bahkan secara ekstremitas watak politisi pun diasosiasikan dengan “animal character”.
Ketiga, kita pantas memberi apresiasi kepada calon gubernur termasuk almarhum Benny Laos yang mau mengunjungi dan berkampanye di pelosok di Maluku Utara, melihat keadaan dan kondisi real kehidupan masyarakat. Tragedi Bobong telah membuka mata kita tentang kondisi wilayah serta keterbatasan infrastruktur terutama di wilayah pelosok dan terluar.
Untuk sebuah ibukota kabupaten saja masih minim fasilitas publik seperti layanan kesehatan, transportasi, bahkan pada peristiwa terbakar speedboat Bela 72 tak tampak fasilitas pemadam kebakaran yang memadai. Taliabu adalah potret disparitas, kesenjangan, ketidakadilan serta pemerataan pembangunan. Kondisi Taliabu juga merepresentasi dan mengindikasikan sejauh mana sentuhan sentuhan pembangunan dan akses pelayanan publik menjangkau wilayah terluar di Maluku Utara mulai dari Morotai hingga Sula.
Dalam perspektif kepemimpinan politik tragedi Bobong seakan memberi sinyal rakyat Maluku Utara merindukan sosok pemimpin yang punya visi dan lompatan besar. Pemimpin tangguh, lincah, kuat dan berintegritas, mampu berselancar dalam dinamika arus perubahan ditengah situasi dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian. Singkatnya sosok yang dirindukan adalah pemimpin yang lahir dari “rahim” rakyatnya sendiri.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.