“Pernyataan ini sangat melukai hati para ibu. Kita tahu kalau bukan para ibu yang memasak lalu siapa yang akan mengurusi makanan kita? Masih mending para ibu PKK mengurus dandang daripada para ibu mencampuri urusan suami ketika menjadi bupati. Yang melukai hati para ibu tidak layak menjadi pemimpin,” tutur Bassam dengan nada kecewa.

Sementara itu, Helmi dalam orasi politiknya menyampaikan Pulau Mandioli ke depan harus terkoneksi, terutama jalur darat agar perputaran ekonomi bisa berjalan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

“Bassam-Helmi memakai pendekatan scientifik dalam perencanaan pembangunan dan menjalankan program pembangunan secara teknokratik, agar hasil pembangunan berjalan dengan baik dan tepat sasaran sesuai kebutuhan masyarakat,” ujar Helmi.

Kampanye kali ini juga sangat spesial, karena masyarakat Desa Waya melalui tetua adatnya memberikan gelar “Raja” kepada Hasan Ali Bassam Kasuba dengan gelar Raja Spanyo, yang berasal dari akar sejarah ketika ada perantau dari Tobelo yang datang ke Tomia dan diangkat menjadi penguasa di Tomia pada zaman itu. Akar sejarah ini yang ingin disambung kembali oleh para tetua adat di Waya ini.

Sementara itu, di Desa Bobo, Bassam dan istrinya di sela-sela kampanye mengunjungi Taman Baca di desa tersebut sebagai komitmen untuk terus meningkatkan budaya literasi di Halsel.

Jubir Bassam-Helmi, Mohdar Bailusy, mengatakan paslon nomor 3 ini akan berkampanye di semua desa di Kecamatan Mandioli Utara dan Kecamatan Mandioli Selatan.

“Kami akan memastikan kemenangan ini dari desa-desa, langsung dengan warga masyarakat bukan dengan klaim-klaim di medsos dan media propaganda lainnya,” tutup Mohdar.