“Dalam tarian togal, terdapat nilai-nilai kerja sama, solidaritas, kekeluargaan, dan penghormatan terhadap alam. Gerakan dalam tarian togal, misalnya, menggambarkan harmoni antara manusia dan alam, serta nilai-nilai dan spirit lokalitas yang perlu terus dijaga keberadaannya,” tuturnya.
Ia berharap, melalui kegiatan Bacarita Kampung ini, pemahaman akan potensi dan warisan nilai-nilai budaya kita menjadi semakin dijaga kelestariannya, dikembangkan serta memiliki kemanfaatan bagi masyarakat itu sendiri dan juga menjadi semakin mencintai serta menghargai tradisi yang ada.
Tidak hanya berbicara mengenai tradisi, Rinto juga menekankan pentingnya adaptasi budaya agar tetap relevan di era digital. Ia mengajak para pemuda dan komunitas untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana melestarikan budaya.
“Kita perlu menggunakan media digital untuk mendokumentasikan dan menyebarkan budaya kita. Generasi muda dapat membuat konten yang kreatif, seperti video atau foto tentang tarian dan cerita rakyat, agar semakin dikenal oleh masyarakat luas,” kata Rinto.
Hal ini, menurutnya, bisa menjadi salah satu strategi untuk menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari identitas digital Indonesia.
Rinto menutup pemaparannya dengan pesan yang menggugah, bahwa upaya melestarikan budaya harus dimulai dari hal-hal kecil, seperti mengenal dan mencintai tarian dan cerita rakyat setempat.
Ia mengingatkan, masa depan budaya Maluku Utara ada di tangan generasi muda. Jika tidak memulainya sekarang, akan kehilangan jejak-jejak leluhur yang agung.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.