Sedangkan untuk hal ketiga, Sultan menegaskan saat ini negeri Maluku Utara sedang “sakit”, karena itu harus dicari obatnya. Obat itu, sambungnya, ada di tangannya dan warga Maluku Utara.
“Cara mengobatinya adalah dengan berusaha menjadi orang baik-baik untuk menjaga negeri ini. Apalagi kalau saya jadi gubernur, saya harus jadi contoh sebagai orang baik. Kalo saya pancuri, bagaimana saya mau larang orang pancuri? Jika saya tidak disiplin, bagaimana saya mau suruh orang disiplin masuk kantor?” tegasnya.

Sebelum menjadi sultan, Husain memiliki karier panjang di dunia birokrat. Selama itu pula, ia tak pernah berurusan dengan penegak hukum terkait penyalahgunaan anggaran.
“Coba tanya ke aparat penegak hukum, apakah saya pernah dilaporkan karena berurusan dengan anggaran? Silakan tanya,” tukasnya.
Selama menjadi sultan, ia juga dikenal enggan memanfaatkan jabatannya untuk meminta fasilitas dari perusahaan tambang. Meski begitu, Sultan Husain sama sekali tidak menolak investasi tambang di Malut.
“Saya ingin tambang memperlakukan rakyat dengan cara yang baik. Menyejahterakan pekerjanya dan menyantuni rakyat lewat CSR-nya. Jika CSR masih kecil, tambah kasih besar lagi. Itu saja sudah membuat saya senang,” tuturnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.