Sebagaimana bagi banyak orang, sosok orang tua, terkhusus sang bapak bagi Muhammad Kasuba adalah cermin kehidupan yang benar-benar tak retak. Punya pendidikan formal yang sangat terbatas, bahkan mungkin tidak, berdomisili di sebuah desa paling terpencil di pulau Bacan kala itu, berpuluh tahun lalu, yang bernama Bibinoi tetapi punya kesadaran kemanusiaan yang hebat. Mungkin karena dipicu statusnya sebagai mualaf pertama di saat itu. Agar tak sendirian, bapak mengajak orang-orang pendatang dari berbagai suku yang kebetulan sedang melaut menangkap ikan hingga berjualan antar pulau, untuk menetap sementara waktu di desa ini sambil berjaga-jaga dengan kondisi laut. Ada suku Makian, Buton, Tidore (Mare) hingga Tobelo dan Galela. Agar bisa hidup menetap, beliau memberi beberapa bidang tanah untuk digarap sebagai lahan bertani.
Diakui Muhammad Kasuba, karakter dasar sang bapak banyak memberi warna bagi dirinya dan kakak beradiknya. Saat menjadi kepala daerah, banyak orang dari berbagai latar suku dan asal daerah di ajak beliau untuk turut serta membentuk nuansa pelangi di pemerintahannya hingga ke buah hatinya yang saat ini sedang menjadi bupati, mewarisi jejaknya.
Saya tak punya pengalaman membersamai beliau di pemerintahan, tak cukup fakta untuk menguji soal integritas diri dan kepemimpinannya. Hanya bermodal cerita dan kesaksian teman-teman plus sebuah buku kecil dari karib saya tadi, berjudul Muhammad Kasuba, Sang Inspirator Pembangunan. Jangan bicara tentang program populis dan kemanusiaan seperti pendidikan dan kesehatan gratis bagi warga yang dipimpinnya. Itu sudah jadi santapan biasa sejak menjadi bupati lalu bahkan hingga menjadi pilot project kementerian terkait. Belum lagi program malaria center yang mendunia itu, hingga bagaimana kiat mengubah mindset sumber daya aparatur yang melayani dan kuat integritas dirinya, semuanya terlacak jejaknya di buku kecil karib ini.
Responnya yang cepat menanggapi permintaan saya di awal tadi, melebihi teman-teman lain hingga yang sering mengklaim diri sebagai cendikiawan sekalipun, yang melengkapi sudut pandang pemahaman saya tentang detail profil seorang Muhammad Kasuba dan meneguhkan kekaguman saya.
Diskusi yang familiar tapi bernas di malam itu, di akhiri peluit peringatan sang hakim yang paling adil, larutnya sang waktu dan dihantui ancaman kondisi laut yang memburuk saat menyeberang kembali ke Tidore. Alhasil, saya berbagi buku Cermin Retak Kehidupan tetapi saya mendapatkan imbalan tak ternilai, cermin kehidupan yang tak retak, pelajaran kehidupan tentang menjunjung tinggi pendidikan dan ilmu pengetahuan serta menghargai potensi keberagaman sebagai sebuah fakta hukum Tuhan bagi hamba-Nya. Wallahua’lam. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.