Oleh: Anwar Husen

Kolomnis/Tinggal di Tidore

________

DENGAN sedikit pengantar dan lewat pesan WhatsApp, saya meminta beliau untuk memberi sedikit endorsement menyempurnakan naskah buku saya, yang merupakan kompilasi dari tulisan pendek saya di dua media online, Pikiranummat dan Tandaseru untuk dibukukan. Asumsinya, beliau adalah tokoh yang dianggap sering membaca tulisan pendek saya, kala terbit di dua media tadi. Tak berselang lama, pesan penguatan dan motivasi itu datang. Padahal saya tahu, beliau begitu sibuk karena kebetulan sedang menghadapi kontestasi Pemilihan Kepala Daerah. Tak seperti yang lain, responnya. Di titik ini, saya sempat merenungi sedikitnya dua hal, beliau mencintai buku sekaligus ilmu pengetahuan. Koheren dengan gelar akademik yang di sandangnya.

Saat datang paket buku yang telah selesai dicetak, yang saya beri judul Cermin Retak Kehidupan itu, beliau adalah sosok pertama yang saya ingat sekaligus berniat memberinya satu eksemplar sekadar tanda terima kasih dan penghargaan atas dua hal yang saya renungi tadi. Dan pertemuan itu terjadi di senin malam lalu di Ternate.

Sejujurnya, saya tak cukup informasi, apalagi data, untuk memahami seutuhnya siapa beliau. Hanya testimoni beberapa teman yang terlibat dan turut serta mendampinginya saat menjadi bupati dua periode di sebuah kabupaten besar di Maluku Utara. Selebihnya, ada satu buku kecil yang saya dapatkan, yang menulis sedikit kiprah dan terobosan besar saat menjadi kepala daerah, dari karib saya Daud Djubedi, seorang ASN yang jadi staf beliau dulu.

Baru di malam itu, saya sedikit menyelami lebih jauh siapa sosok ini, usai saya menyerahkan buku saya sekaligus sedikit pose bersama dilanjutkan bincang-bincang singkat dengan kami. Banyak hal yang disampaikannya hingga jadi bahan diskusi kami. Mulai dari kisah masa kecil, profil bapaknya yang mewariskan banyak nilai-nilai positif dalam kehidupan, jejak kepemimpinan beliau di Halmahera Selatan hingga obsesi dan kiatnya membangun Maluku Utara jika terpilih dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah nanti. Sosok ini adalah DR Muhammad Kasuba, mantan bupati Halmahera Selatan selama dua periode.

Hal yang sangat berkesan dan jadi renungan saya dalam perjalanan sejak dari Ternate hingga tiba di rumah di Tidore malam itu, dan jadi inspirasi catatan pendek ini: menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan menghargai keberagaman. Ini warisan terluhur yang dipatrikan almarhum sang bapak beliau untuk anak-anaknya.

Saya jadi mahfum, betapa nama bapak mereka, sering sekali diabadikan sebagai nama yayasan pendidikan dan kemanusiaan yang mereka dirikan, Hasan Kasuba.