“Kalau lihat mata kuliahnya pagi, berarti kuliah dulu. Nanti pulang kuliah jam 12 itu saya bawa bentor sampai jam 10 malam baru pulang di rumah. Kalau mata kuliah di jam 12 siang, berarti pagi itu harus bawa bentor. Kalau tugas-tugas dari kampus tetap bikin, berorganisasi juga saya aktif,” paparnya.​

Perjuangan Isman kian dicoba saat duduk di bangku semester 6. Pasalnya, sang ayah meninggal dunia.

“Seluruh tanggung jawab itu dipikul sebagai anak yang paling tua. Saya sempat putus asa dan mengambil keputusan untuk berhenti kuliah. Karena membantu mama itu keharusan dan jauh lebih penting bagi saya,” akunya.

Di tengah kebuntuan, Isman terus memikirkan nasib sang ibu dan tiga adiknya. Ia akhirnya memutuskan tetap berjuang menjadi tukang bentor di tengah kuliah.

Saat semester 7, seluruh mata kuliahnya kelar ia tuntaskan. Biaya kuliah tingkat akhir pun ia siapkan. Hanya saja, terkendala pada biaya akhir studi adiknya di Unpatti.

“Maka dengan niat dan keberanian saya berangkat mencari ‘suaka’ di salah satu perusahaan di Halmahera Tengah selama 7 bulan lamanya. Dan alhamdulillah semua dapat diselesaikan, adik perempuan wisuda dan saya hari ini diwisuda juga,” tuturnya.