“Saat itu ada penumpang yang ingin diantarkan ke kampus Unipas Morotai pada tahun 2020 untuk mendaftar sebagai mahasiswa baru. Saya lihat brosur dan formulir yang dipegangnya. Dalam hati (saya bilang) seandainya saya bisa mendaftar dan bisa berkuliah di kampus ini,” ungkap Isman saat diwawancarai tandaseru.com usai prosesi wisuda.
Dengan hati-hati waswas dan cemas, Isman lantas memberanikan diri mendaftar kuliah. Meski keterbatasan ekonomi selalu membayanginya.
“Selama kuliah saya tetap bekerja mengemudi bentor membantu kedua orang tua untuk biaya studi adik perempuan di Universitas Pattimura Ambon. Dan saya harus pandai membagi waktu untuk kuliah,” ujarnya.
Sebagai tukang bentor, Isman mempunyai kewajiban menyetorkan uang Rp 50 ribu per hari kepada majikannya, pemilik bentor. Kadang dalam sehari ia hanya bisa mendapatkan total pendapatan Rp 70 ribu.
“Pendapatan itu tergantung. Kalau misalnya saya putar dari jam 6 sampai jam 12 itu berarti bisa dapat Rp 70 ribu. Itu tergantung dia punya kondisi di lapangan. Dari hasil bentor itu untuk membiayai kuliah seperti pembayaran, bikin tugas,” jelasnya.
Di sela-sela kesibukannya sebagai tukang bentor dan mahasiswa, Isman mampu memaksimalkan kemampuannya mengatur waktu.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.