Bagian utara kota diperuntukkan bagi kegiatan jasa dan industri ramah lingkungan, sementara bagian selatan lebih bersifat pedesaan yang sebagian besar ditempati kebun buah-buahan. Apel merupakan salah satu komoditas utama kota ini. Pai apelnya lezat, sirup apelnya sudah diekspor ke berbagai negara.

Pemerintah Gora Kalwaria amat terbuka terhadap investasi. Namun boleh tidaknya sebuah perusahaan beroperasi di kota tersebut tak lepas dari izin masyarakat sebagai sebuah komunitas.

Misalnya ada sebuah gudang yang disewa untuk perusahaan sepeda. Setelah masa sewanya berakhir, ada perusahaan lain yang menggantikan, namun ingin membuat alat berat. Komunitas masyarakat lantas menolaknya karena pembuatan alat berat dinilai tidak sesuai di lingkungan tersebut. Alhasil, perusahaan alat berat batal beroperasi di situ.

Fasilitas penampungan pakaian bekas di Gora Kalwaria untuk didonasikan. (Tandaseru/Ika Fuji Rahayu)

“Kami tidak ingin ada konflik di masyarakat,” kata Arkadiusz.

Kotamadya memiliki tiga alat kebijakan tata ruang dasar, yakni studi tentang kondisi dan arah pengembangan tata ruang, rencana pembangunan daerah, serta keputusan mengenai kondisi pembangunan dan pengembangan lahan.

Selain Wakil Wali Kota dan pegawai pemerintah, organisasi non-pemerintah (NGO) juga membantu Arkadiusz mengelola kotanya. NGO di antaranya mengelola klub senior (rumah kreasi lansia), fasilitas olahraga, penampungan hewan, hingga pusat rehabilitasi vokasional.

Jaga Lingkungan

Warga Gora Kalwaria pun berperan aktif menjaga kotanya. Salah satunya dalam hal menjaga lingkungan. Warga setiap bulan membayar pajak pengelolaan sampah sebesar 7,8 Euro (sekitar Rp 133.824) per orang. Selain itu, warga sudah punya kesadaran memilah sampah rumah tangga. Tak heran, tiap rumah di Gora Kalwaria memiliki tiga atau lebih jenis tempat sampah untuk memisahkan sampah organik, anorganik, sampai sampah elektronik. Sementara industri diwajibkan mengelola sampah hingga 0 persen waste.

Wali Kota Gora Kalwaria menunjukkan fasilitas pembuangan sampah elektronik. (Tandaseru/Ika Fuji Rahayu)

“Di kota ini kami memiliki tempat sampah khusus benda-benda elektronik. Tempat sampah itu pun dipilah menjadi sampah barang elektronik kecil seperti kalkulator, ponsel, remote control, lalu charger ponsel, bohlam, hingga baterai. Sampah jenis ini nantinya diangkut oleh perusahaan yang khusus mengelolanya menjadi elemen kendaraan listrik, yang mana sangat menguntungkan bagi mereka,” terang Arkadiusz.