Demokrasi yang seharusnya menyediakan ruang dan kebebasan rakyat berkompetisi telah ditutup rapat para bagundal politik. Akibatnya partai politik dan elitenya gagal melaksanakan fungsi rekrutimen kepemimpinan karena terperangkap dalam politik sandera. Di sisi lain penguasa dengan dukungan oligarki lebih memilih politik cuan, sandera dan intimidasi melawan begundal politik yang berbeda pandangan, apalagi mencoba melawan penguasa.

KIM Plus telah menjadi begitu fenomenal dalam politik Indonesia jelang kontetasi Pilkada di Daerah seperti DKI Jakarta, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah. KIM Plus ibarat kapal yang digunakan Jokowi dan Prabowo berlayar bersama dengan tujuan berbeda. Jokowi menjadikan pelabuhan “purna purna kuasa” sebagai tujuan berlabuh, sekaligus ingin menempatkan sang putra mahkota Gibran Rakabuming Raka sebagai wapres berbeda dengan wapres sebelumnya yang terkesan sebagai ban serep dan boneka.

Singkatnya Jokowi menghendaki Gibran sebagai Wapres yang memiliki posisi tawar, pengaruh dan power mengimbangi Prabowo sekaligus melindungi dinastinya ketika tak memiliki kuasa. Sedangkan sang Presiden terpilih, Prabowo Subianto ingin berlayar dengan KIM Plus hingga bisa mengantarkannya dua periode.

Dengan perbedaan tujuan otomatis preferensi politiknya berbeda. Ibarat dalam sebuah kapal, Jokowi dan Prabowo saling membajak para awak kapal, nakhoda, mualim, perwira hingga ABK. Secara asosiatif awak kapal dimaksud adalah pimpinan parpol, para kepala daerah dan sebagainya. Beberapa rekomendasi untuk calon Gubernur termasuk upaya penjegalan Anies merupakan sinyal sesungguhnya pertarungan periode 2029 sudah ditabuh.

Dunia politik memang tidak mengenal teman dan musuh abadi, tetapi hanya kepentingan abadi. Pilkada di beberapa provinsi besar terutama DKI adalah potret kepentingan Prabowo vs Jokowi. Akankah Ridwan Kamil melangkah mulus menuju DKI 1 melawan kotak kosong atau calon independent tentunya belum pasti. “Kudeta” terhadap Ketum Umum DPP Golkar Airlangga Hartarto dan Munas Golkar sebelum pendaftaran calon kepala daerah bisa jadi akan merubah konstelasi politik dan peta dukungan terhadap calon kepala daerah apalagi Anies Baswedan sudah dipastikan gagal memperoleh tiket.

Kegagalan Anies dipastikan membuka peluang pada calon lain dari internal KIM Plus untuk bertarung, politik selalu berubah tiap saat, injuri time akan membuktikan siapa pasangan calon DKI, Ridwan Kamil–Suswono yang sudah mendeklarasikan atau Ridwan Kamil–Kaesang Pangerap, kita tunggu hingga tanggal 27 nanti. (*)