Workshop ini kemudian dimulai dengan penjelasan sekaligus simulasi pembuatan minyak cengkih yang didemonstrasikan oleh Taufik Ayub.
Taufik menyebutkan bahan baku utama minyak cengkih adalah daun cengkih pilihan, bukan daun cengkih yang berserakan di bawah pohonnya.
Karena minyak cengkih merupakan salah satu obat herbal, maka proses pembuatannya pun harus dilakukan dengan teliti sesuai standar BPOM.
“Untuk memperoleh kualitas minyak cengkih yang baik dan optimal, daun cengkih terlebih dahulu dipilih, biasanya daun yang berkualitas prima adalah yang berwarna kuning dan keemasan. Daun cengkih kemudian akan disuling menggunakan kentel dengan kapasitas 25 kilogram selama maksimal 8 jam,” jelas Taufik.
Ibrahim Tuheteru dalam kesempatan itu menjelaskan, kaitan antara minyak cengkih sebagai hasil hutan bukan kayu dengan program perhutanan sosial.
Ia mengimbau tentang pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan pentingnya kolaborasi antara kelompok tani dengan pihak berwenang dalam menjaga kualitas, serta keberlanjutan hasil hutan.
“Saya berharap adik-adik mahasiswa yang hadir di workshop hari ini, bisa memahami pentingnya perhutanan sosial dalam rangka membangun kesadaran akan pentingnya hutan dan keberlangsungannya,” harapnya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.