Politik Kemanusiaan
Baru-baru ini kita mungkin pernah mendengar atau menonton sependek video “almarhum Sahdat Bungan” asal Morotai yang menderita tumor ganas dari cerita Ibu Wati, seorang istri almarhum semasa dalam perawatan. Video berdurasi kurang lebih dua menit yang beredar di sosial media, facebook dan grup WhatsApp adalah bentuk kemanusiaan Basri Salama dalam mempraktekan politik kemanusiaan. Bentuk pertama yang paling “telanjang” ialah dalam tindakan Basri Salama upaya menempatkan, melibatkan diri, dan memberikan prioritas pada setiap momen-momen kesulitan yang urgent dan sangat mendesak. Mengartikan bahwa secara historis, politik kemanusiaan ialah menata kehidupan rakyatnya tanpa memberi pengecualian dalam mempraktekan nilai-nilai kemanusian.
Dalam konteks pemimpin, Basri Salama tak hanya menunjukan alasan terpenting dari untuk tujuan politiknya melainkan lebih dari itu. Ia mampu menjembatani dengan mendahului tindakan kemanusiaan pada hal-hal yang sederhana dan belajar menemukan arti penting sebua makna relasi-kemanusiaan.
Di sisi lain, Basri Salama memiliki pengetahuan yang cukup sehingga mampu menerjemahkan batas momen-momen eksistensi seseorang, menempatkan kemanusiaan sebagai subyek. Hanya dengan melibatkan subyektifitas seseorang menjadi semakin bertanggung jawab. Ada semacam gerakan bersama dalam menata kehidupan masyarakatnya dengan seminimal mungkin untuk kemanusiaan (Anthonius, 2021), tujuannya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Bahkan kita sendiri atau mungkin sebagian lain karena memberi “pengecualian” dengan alasan relasi-politik.
Dengan begitu sangat bergantung pada persepsi sejauh mana seseorang memaknai peristiwa. Begitu juga dengan saya. Tetapi peristiwa di atas menggambarkan bahwa bagaimana Basri Salama menunjukan perilaku eros yang mewakili dorongan kehidupan sebagai tanggung jawab sosial. Dalam konteks kemanusian, Barsi Salama tak sekedar bermain-main untuk membentuk relasi-politik demi meraut kepentingan publik, melainkan telah melampaui yang dibayangkan “orang lain” dan kita sendiri belum tentu mempraktekannya.
Sudut pandang Basri Salama, seperti kata Allende (2012) ialah dapat mengekspresikan nilai-nilai etis yang berbeda atas prinsip kemanusian, tidak mengganti yang sudah ada tetapi untuk melengkapinya. Seturut dengan prinsip adalah atas bentuk penghayatan refleksi kritis sebagai seorang pemimpin yang lahir dari pengalaman selama hidup di jalanan atau selama beraktivis. Namun selama hidup dalam rahim aktivis tak pernah surut gairah literasinya dan selalu melancarkan pernyataan-pernyataan paling progres. Barangkali sebagai pemimpin kita perlu belajar bersama Basri Salama dengan mengenal citra diri untuk masa depan Maluku Utara. Bukan dengan menunjukan perilaku megalomania dalam pengertian memuji-diri sendiri dan mengatasnamakan pembangunan sumber daya manusia.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.