Poin dari profil pemimpin itu adalah problem solver, di level manapun dia. Bahkan tidak sekadar itu tetapi kita sudah di fase ‘adu akselerasi’ berlomba saling cepat dengan kompetitor di lingkungan strategis kita. Dan cara paling mudah mengenalinya adalah rekam jejak. Artinya, dia pernah melakukannya, bahkan dengan prestasi. Bukan baru berkhayal akan melakukan. Karena apapun kemampuan ‘berkoar’ seseorang pemimpin, kata kuncinya adalah kesejahteraan warga yang dipimpin. Dan itu adalah kondisi kehidupan yang bisa di rasakan secara fisik, bukan berkhayal. Orang merasa kenyang karena ada makanan yang dimakan, bukan karena sebab dia berkhayal dan bisa kenyang. Kondisi ‘kelaparan’ bisa mendegradasi nilai kemanusiaannya sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia.
Kita berharap bisa sejahtera dan terangkat derajatnya sebagai warga karena akibat implikasi kebijakan yang rasional dari seorang pemimpin tetapi kita memilihnya menggunakan pendekatan emosional tertentu yang tak korelatif dengan ekspektasi kita. Ini mindset paling lucu yang masih mengancam dan potensial merusak di fase berikut Maluku Utara.
Kita berkepentingan memilih pemimpin yang tepat, agar kelak tak ada ‘gugatan’ : sesama kita yang punya latar sama tetapi berbeda akses terhadap kehidupan dan hari depan yang sejahtera karena berbeda kualitas sosok pemimpin daerahnya, kualitas kebijakan dan pemihakan. Banyak fakta miris yang luput dari ‘radar’ sensitifitas pemimpin daerah. Pedagang berpindah pasar antar daerah karena berbeda kualitas kepala daerah terpilih yang kebijakannya di pandang ‘mengancam’ kegiatan usahanya. Aparatur sipil negara memilih pindah lingkungan kerja antar daerah karena juga alasan-alasan mirip tadi, lingkungan kerja hingga pendapatan dan akses terhadap kesejahteraan keluarganya dan berbagai alasan lainnya.
Ini salah satu efek buruk pemilihan kepala daerah langsung, tidak ada proteksi terhadap syarat-syarat khusus tertentu yang harus di penuhi, seseorang bisa menjadi kepala daerah, atas nama demokrasi. Efeknya, hanya sedikit yang bisa jadi problem solver sedangkan yang banyak hanya justeru menghadirkan problem atau ‘soe’, idiom lokal kita yang bermakna sial atau gagal.
Kita tentunya tak berharap akhir periode paket kepemimpinan berikutnya yang terpilih nanti, akan ‘bernasib sama’ mewariskan beban besar kepada Penjabat lagi. Dan salah satu caranya adalah belajar untuk tak melanggengkan ‘kebodohan’ karena keliru memilih pemimpin, yang akibatnya tak sekadar menyengsarakan orang per orang tetapi sangat banyak orang, tidak saja untuk urusan makannya hari ini, tetapi juga untuk hari depan generasi kita.
Selamat bertugas, Pak Samsuddin Abdul Kadir, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, yang diamanahkan sebagai Penjabat gubernur Maluku Utara. Semoga istiqamah menjadikan beban ‘pekerjaan rumah’ ini sebagai bagian dari pengalaman kepemimpinan yang baru, yang menyenangkan dan bernilai ibadah. Wallahua’lam. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.