Mampukah seorang top leader melakukan transformasi kepemimpinan yang dapat menerjemahkan tantangan menjadi visi dan tindakan ditengah dinamika perekonomian yang semakin berat dengan hadirnya revolusi teknologi dan digitalisiasi bisnis. Publik memahami di tengah derasnya perkembangan ekonomi digital yang ditandai dengan maraknya transaksi bisnis dengan memanfaatkan media digital sebagai alat komunikasi, kolaborasi antar perusahaan maupun individu menjadi penanda bergesernya ekonomi klasik ke ekonomi digital. Perubahan tersebut ikut merubah perilaku konsumen dari shopper lifestyle menjadi leisure lifestyle. Tumbangnya bisnis retail dengan ditutupnya gerai modern Giant, Trans Mart, Matahari dan sebagainya di berbagai kota berdampak terhadap bisnis penyewaan gedung, plaza dan sejenisnya.
Kondisi dimaksud sedang dialami Pemerintah Kota Ternate yang memiliki aset, Plaza Gamalama Modern. Pusat bisnis hasil revitalisasi pasar tradisional guna merespon pertumbuhan sektor jasa dan perdagangan yang kompetetif.
Di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, uncertainty diperlukan kemampuan seorang pemimpin yang mampu berselancar dalam dinamika arus perubahan, yaitu pola kepemimpinan yang tidak hanya mampu memotivasi dan menggerakkan namun juga dapat menunjukan kapasitas untuk senantiasa agile di setiap keadaan. Dengan begitu persoalan Plaza Gamalama Modern yang terkatung katung hingga kini segera terselesaikan karena hadirnya seorang pemimpin yang membawa solusi bukan menjadi akar masalah.
Masyarakat dan khususnya pelaku usaha di Ternate sangat berharap Plaza Gamalama Modern segera difungsikan. Entah melalui kerja sama dengan pihak ketiga, dijadikan sentra UMKM, ataupun Mall Pelayanan Publik yang penting bermanfaat. Dengan begitu akan menambah geliat sekaligus menjadikan Ternate sebagai magnit sektor jasa dan perdagangan Maluku Utara. Dan memanfaatkan Plaza Gamalama Modern bukan sekedar melanjutkan karya Walikota terdahulu tetapi juga membangun tradisi memelihara dan merawat karya monumental pendahulu negeri ini. Semoga spirit melestarikan dan melanjutkan karya pemimpinan sebelumnya selalu ada dalam setiap langkah membangun daerah. Bukankah Adat Se Atorang selalu mengajarkan kita untuk merawat dan melestarikan karya orang meskipun kita belum berkarya. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.