Seperti kita ketahui, sebagian masyarakat terdiri dari golongan duafa dan ustadh’afin. Mereka apakah lemah karena faktor kultural atau struktural mengalami kesusahan dan penderitaan hidup. Setiap dari mereka manahan lapar dan dahaga, sementara makanan tidak ada sama sekali. Puasa bagi mereka adalah hal wajar yang dialami sehari-hari, ditambah lagi ketika berpuasa mereka tidak bisa turut bersuka cita pada saat berbuka puasa kecuali sekadar besyukur, senetara sebagian masyarakat merayakan buka puasa bersama (bukber) dengan pesta makanan berlimpah ruah. Sungguh mereka membutuhkan kasih sayang dan kepedulian kita.
Dengan puasa, orang-orang kaya akan merasakan betapa sakit dan perihnya menahan lapar, padahal itu hanya sementara waktu. Perasaan ini akan mengingatkan mereka kepada sebagian saudaranya yang duafa dan mustadh’afin yang senantiasa merasakan lapar dan dahaga sepanjang waktu. Dari pengalaman ini, akan timbullah sikap murah hati, guna menolong mereka yang serba kekurangan dan lemah, yang pada akhirnya akan melahirkan sikap kasih sayang kepada sesama muslim. Maka jelaslah kehidupan masyarakat muslim akan semakin kokoh dan lestari.
5. Sebagai Pengendalian Diri
Kemampuan mengendalikan diri amat penting dalam kehidupan manusia. Apabila seseorang tidak mampu mengatasi dorongan dan kebutuhannya dengan cara yang baik dan wajar, ia akan sering menghadapi kesulitan, misalnya melanggar kaidah-kaidah agama, ketentuan hukum, hak orang lain, merugikan diri sendiri, bahkan lebih dari itu dapat menimbulkan bencana perkelahian, peperangan, dan permusuhan antar negara, suku, ras dan golongan. Ukuran kemampuan pengendalian diri seseorang bergantung pada nafsu seorang. Kemampuan mengendalikan hawa nafsu, akan mampu mengendalikan akal sehat dan hatinya.
Dilihat dari fungsinya, nafsu yang menyertai hidup dan kehidupan dapat dibedakan menjadi dua kategori. Pertama, nafsu yang melayani kepentingan dan kebutuhan jasmani, dan kedua, hafsu yang melayani kepentingan dan kebutuhan rohani. Puasa dalam hal ini melatih manusia mengendalikan diri selain meningkatkan keimanan. Anjuran berpuasa dengan menahan diri dari kata-kata dan perilaku negatif seperti emosi, jorok, dusta, dan lainnya, melatih manusia untuk menghindari kejahatan seperti memprovokasi dan berkarakter mulia seperti berkasih sayang.
6. Menyehatkan Emosional
Puasa erat kaitannya dengan kemampuan menahan diri (imsak). Puasa merupakan wahana penempatan mental hingga seseorang mampu bertahan menghadapi ujian dan cobaan serta siap menghadapi perjuangan dan pengorbanan yang lebih berat. Puasa melatih kedisiplinan dan mengendalikan diri. Mengendalikan diri luas cakupannya, termasuk didalamnya adalah mengendalikan diri dari sikap emosional. Orang yang menjadikan puasa untuk menyehatkan emosional dituntut agar memelihara emosinya dan tidak boleh dibiarkan lepas.
Aktivitas puasa sangat efektif dalam upaya melatih sikap meredam marah. Marah berasal dari nafsu yang dibimbing syaitan. Syaitan masuk ke dalam manusia melalui aliran darah. Dalam kondisi berpuasa, tubuh lemah akibat manahan haus dan lapar. Kondisi ini akan menjadikan kekuatan dan energi syaitan turut melemah. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa puasa adalah perisai (junnah). Temasuk perisai dari gangguan marah yang disebabkan oleh nafsu syaitan. Puasa itu mulia, dan kemulian puasa tidak boleh dirusak dengan perilaku syaitan yang tidak terkontrol sehingga melenyapkan nilai puasa.
B. Puasa dan Kesehatan Mental
Peranan puasa dalam menciptakan kesehatan mental cukup besar, baik sebagai pengobatan terhadap gangguan kejiwaan, sebagai pencegahan agar tidak terjadi gangguan kejiwaan, maupun sebagai alat untuk kesehatan mental. Dalam ibadah puasa, kejujuran yang dituntut adalah jujur terhadap diri sendiri disamping jujur kepada orang lain. Orang yang tahu persis apakah seseorang itu berpuasa atau tidak, adalah dirinya sendiri, dan orang lain dapat dibohonginya. Sebab menelan air waktu berkumur-kumur sudah menyebabkan puasa itu batal, walaupun ia meneruskan puasanya, tidak makan, minum maupun hal lain yang membatalkan puasa.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.