Aslinya, kata Kasman, ada sekitar 10-15 ekor Bidadari Halmahera di sekitar lokasi tersebut. Sayangnya, kami datang bertepatan dengan musim panen cengkeh. Di sepanjang perjalanan kami beberapa kali berpapasan dengan petani cengkeh. Bahkan, ada petani yang kebun cengkehnya tepat di seberang titik pengamatan. Keberadaan manusia, dengan suara-suaranya dan aktivitas seperti membuat api, membuat Bidadari Halmahera enggan menampakkan diri hari itu.
Banyak warga Sawadai, maupun desa-desa sekitar, yang membuat kebun cengkeh di kawasan Cagar Alam Gunung Sibela. Ada pula warga yang membuat gula aren di kawasan hutan.
Kondisi ini tak ayal membuat kecewa Ian dan Fiona, yang datang jauh-jauh dari Australia untuk melihat Bidadari Halmahera. Ini kali kedua Ian dan Fiona mengikuti trip tersebut. Pada Oktober 2023, keduanya berhasil melihat hewan menawan itu. Ian bahkan mengabadikannya dalam kameranya. Saat itu kondisi hutan memang sepi.

Namun selang 3 bulan saja, situasi begitu berbeda. Aktivitas manusia ada di mana-mana di hutan itu, dan Bidadari Halmahera memilih tak menampakkan diri.
“Kami sangat menyayangkan kondisi ini. Setahu kami cagar alam seharusnya tidak ada aktivitas perkebunan, karena akan mengubah hal-hal alami di sana. Bayangkan, dalam waktu 3 bulan saja apa yang kami temui begitu berbeda,” ujar Fiona.
Kasman yang juga mantan kepala desa Sawadai selama dua periode mengakui banyak kebun warga di lereng Gunung Sibela. Padahal berdasarkan penetapan kawasan Gunung Sibela sebagai cagar alam, lokasi itu hanya bisa digunakan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam termasuk kegiatan wisata alam terbatas bagi kepentingan peningkatan kesadartahuan, penyerapan dan/atau penyimpanan karbon, pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya, dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya.
Seingat Kasman, belum pernah ada sosialisasi dari pihak otoritas tentang aktivitas apa saja yang dilarang dilakukan di kawasan Cagar Alam Gunung Sibela. Mungkin karena itu warga membuat kebun di kawasan tersebut.
International Union for Conservation of Nature memasukkan status populasi Bidadari Halmahera dalam kategori Least Concern (ancaman kepunahannya belum mengkhawatirkan). Meski begitu, maraknya pengrusakan lingkungan dikhawatirkan mengancam keberadaan habitat ini. Di alam bebas, populasi Bidadari Halmahera diperkirakan hanya sekitar 50 hingga 100 ekor saja. Namun sejauh ini belum ada hasil penelitian soal jumlah populasi burung tersebut.
***
Kami hanya berada kurang lebih 1 jam di titik pengamatan Bidadari Halmahera. Hari kian siang, dan suara-suara riuhnya kian berkurang. Kami harus menerima kenyataan hasil pengamatan kali ini tidak begitu memuaskan, namun ada catatan penting yang harus menjadi perhatian otoritas, yakni maraknya pembukaan perkebunan warga di kawasan cagar alam.

Ian dan Fiona berharap, kealamian Cagar Alam Gunung Sibela dipertahankan sebaik mungkin. Sebab sebagai hewan endemik, Bidadari Halmahera tak bisa ditemukan di tempat lain manapun di belahan dunia ini. Hanya di Halmahera, baik Pulau Bacan (Halmahera Selatan), maupun Pulau Halmahera (Halmahera Tengah, Halmahera Barat, dan Taman Nasional Aketajawe Lolobata).
Perjalanan mengamati Bidadari Halmahera kali ini lantas ditutup dengan mengunjungi patung raksasa burung tersebut di Zero Point Kota Labuha.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.