***

Pendakian ini mengingatkan saya betapa pentingnya berolahraga rutin. Mendaki sepanjang 3 kilometer, saya harus berulang rehat, mengambil napas. Hari masih gelap buta. Masing-masing orang membawa senter. Nyalanya timbul tenggelam di antara pepohonan raksasa.

Kawasan Gunung Sibela mulai ditetapkan sebagai cagar alam sejak tahun 1987 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 326/Kpts-II/1987 tertanggal 15 Oktober. Luas kawasan Cagar Alam Gunung Sibela mencakup 23.024 hektare dengan titik tertinggi 2.118 meter di atas permukaan laut.

Cagar alam ini merupakan rumah bagi flora seperti matoa (Pometia pinnata), gufasa (Vitex cofassus), samama (Anthocephalus macrophyllus), beragam anggrek, dan cengkeh. Sedangkan hewan yang dapat ditemui di kawasan tersebut adalah monyet (Macaca nigra sp), nuri Ternate (Lorius garrulus), bayan (Electus roratus), burung raja (Cicinurus regius), kasturi (Eos bornea), kakatua alba (Cacatua alba), dan perkicit violet (Eos squamata).

Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii). (eBird.org)

Cagar Alam Gunung Sibela juga menjadi lokasi penemuan Bidadari Halmahera oleh Wallace. Tepatnya ditemukan Ali, asisten Wallace.

Wallace dalam bukunya The Malay Archipelago (1869) menuliskan ia tiba di Pulau Bacan pada Oktober 1958 setelah bertolak dari Pulau Kayoa. Pada hari keduanya di Bacan, ia menemukan Ali kembali dari perburuan dengan beberapa ekor burung. Asistennya yang setia itu dengan antusias menyodorkan seekor burung kepadanya. Warga lokal menyebutnya burung weka-weka.

Pertama kali dalam hidupnya, Wallace melihat burung dengan bulu hijau indah di dadanya, memanjang menjadi dua jumbai berkilauan. Burung ini menurut Wallace sangat berbeda dengan keluarga cendrawasih lainnya.

Ia menuliskan kekaguman terhadap Bidadari Halmahera dalam bukunya: “Burung ini memiliki sepasang bulu putih panjang, yang menonjol langsung dari masing-masing bahu. Bulu umumnya sangat sederhana, berwarna zaitun pucat murni, dengan semburat keunguan di bagian belakang. Ubun-ubun kepala berkilau indah dengan warna ungu metalik pucat, dan bulu-bulu bagian depan memanjang hingga menutupi paruh. Leher dan dada bersisik dengan warna hijau metalik halus, dan bulu di bagian bawah memanjang di setiap sisinya, sehingga membentuk gorget berujung dua, yang dapat dilipat di bawah sayap, atau didirikan sebagian dan dibentangkan di bagian belakang. Sama seperti bulu samping pada sebagian besar burung cendrawasih. Empat bulu putih panjang yang memberikan karakter unik pada burung itu muncul dari tuberkel kecil yang melengkung lembut, dan berselaput sama di kedua sisinya, berwarna putih krem ​​murni. Panjangnya sekitar enam inci, sama dengan sayap, dan dapat diangkat tegak lurus, atau diletakkan di sepanjang tubuh. Paruhnya sewarna tanduk, kakinya berwarna kuning, dan irisnya berwarna zaitun pucat.”

Belakangan, burung ini oleh GR Gray dari British Museum diberi nama Semioptera wallacei atau Wallace’s Standar Wing.

***

Ketika kami tiba di titik pengamatan burung, suara Bidadari Halmahera sudah riuh terdengar. Burung ini memang terkenal dengan suaranya yang cetar membahana. Mereka biasanya bertengger berpasangan di dahan pohon menjulang tinggi nan rimbun. Atau menari-nari di udara.

Di lokasi pengamatan ada dua tempat duduk bambu panjang yang dibangun Kasman. Pengamat biasanya duduk di situ sembari menunggu munculnya Bidadari Halmahera.

Lokasi pengamatan burung Bidadari Halmahera di hutan Gunung Sibela. (Tandaseru/Ika Fuji Rahayu)

Selain kecantikannya, Bidadari Halmahera dijuluki burung misterius. Keberadaannya yang sulit ditemukan, bahkan sarangnya yang tak pernah diketahui di mana, adalah beberapa alasannya. Di samping itu, perilakunya saat bertelur dan mengerami telur belum diketahui. Namun yang pasti, Bidadari Halmahera jantan lebih sering terlihat menari dibandingkan betina.

Bidadari Halmahera adalah burung yang sangat sensitif. Selain upaya melihatnya yang tak mudah, ia tak suka berlama-lama berada di dahan terbuka. Burung yang masuk famili Paradisaeideai ini juga tak betah dengan suara-suara lain. Alhasil, kami harus selalu berbisik saat menanti kemunculannya.

Menurut Kasman, saat itu ada sekitar empat ekor Bidadari Halmahera di lokasi kami mengamati. Namun mereka enggan berlama-lama menampakkan diri. Hanya sekejap, lalu hilang, meski suaranya terus terdengar.