Oleh: Arman Buton

Alumni HMI Cabang Ternate

_______

TULISAN ini bukanlah artikel sempurna yang ditulis atas dasar penelitian atau riset, ataupun didasari pedoman kerangka teoritik ilmiah.

Namun, tulisan ini hanyalah coretan biasa, coretan yang lahir dari pengalaman sehari-hari, dari lingkungan sosial sekitar, dari narasi-narasi yang terbangun dalam ruang-ruang tertentu, entah itu di kedai kopi, di sudut-sudut kota, dalam kerumunan orang-orang di pasar, di halte atau pangkalan ojek, atau di taman dll.

Selanjutnya dari pengalaman tersebut, kemudian terpikir oleh saya untuk sekadar mencoba-coba, sebisa mungkin mengkreasikannya menjadi sebuah artikel yang menyajikan fakta dan realitas demokrasi politik yang memang benar adanya. Terutama yang terjadi hari-hari ini, di mana pemilihan anggota DPRD tinggal hitungan hari.

Politik uang menjadi hal biasa yang mewarnai dinamika perpolitikan kita, bahkan terjadi di Indonesia secara umum. Sejak awal reformasi hingga kini, politik uang kerap kali dijadikan sebagai alat dan taktik oleh para elite dan politikus. Setidaknya, cara ini dianggap ampuh untuk mendulang suara dalam perebutan kekuasaan.

Politik uang di Kepsul sendiri terasa baru sesudah setelah daerah ini dimekarkan menjadi daerah otonomi baru (DOB), pada tahun 2003 silam. Politik uang lalu tumbuh subur pada momentum pemilihan anggota DPRD Sula tahun 2009, tahun 2014, tahun 2019 dan kini masih subur di tahun 2024.

Politik uang menjadi hal biasa dan lumrah terjadi di Kepsul. Namun ada fenomena unik, di mana interaksi politik antar sesama elite politik, atau elite dengan akar rumput, antara caleg dengan caleg, atau timses dengan simpatisan dan pendukung, kini diwarnai dengan kode-kode atau isyarat-isyarat untuk sekiranya siasat “politik uang” harus beraksi cepat seiring waktu yang semakin dekat. Kode-kode tersebut bisa dalam bahasa isyarat, mimik atau gestur tertentu. Termasuk dengan permainan kata, atau bahkan mungkin sebuah lirik lagu.

Lagu dengan judul “Rizal”, yang dinyanyikan Lilis Liana, akhir-akhir ini, menjadi salah satu lagu terhits di Kepsul. Salah satu yang membuat rating lagu ini membengkak adalah bait pada liriknya “UANG MERAH-MERAH”. Lagu ini kemudian membius khalayak umum. Bukan hanya menghipnotis kalangan muda atau milenial saja, melainkan pengaruhnya sampai pada orang-orang tua, bahkan kini, lagu ini, dihafal dan dinyanyikan oleh anak TK/SD.