“Dari hasil riset saya kemarin itu, dalam satu liter air itu sudah terdapat 500 mg besi atau logam-logam berat dan nikel itu sudah tinggi sekali, sangat di atas ambang batas baku mutu yang dipersyaratkan. Kadar dipersyaratkan hanya sekitar 0,05 di sana itu 494,” jelas dia.
Aris pun khawatir, jika pencemaran ini terus terjadi tanpa tertangani secara khusus maka Teluk Buli itu akan mengalami kekosongan biota.

“Jadi tidak ada lagi yang bisa hidup apalagi mau melakukan reproduksi, itu tidak ada,” kata dia.
Kekhawatirannya itu, lanjut Aris, mulai terlihat ketika dalam riset itu dia sempat mewawancarai sejumlah nelayan bagan yang mengaku hasil tangkapannya menurun drastis.
Biasanya sebelum hadir tambamg, sehari nelayan bisa menangkap sampai 1 ton ikan teri. Kini, bahkan 100 kilogram saja sulit didapat. Padahal, hasil tidak memuaskan itu diperoleh saat fase penangkapan yang cukup produktif, karena bulan dalam kondisi mati atau biasa disebut bulan gelap.
“Nah ini salah satu indikator bahwa pencemaran itu sudah terjadi, dan penurunan populasi ikan di sana itu terancam punah,” timpal dia.
Apalagi kata dia, pulau-pulau kecil di Teluk Buli sebagian besarnya sudah diberi izin pertambangan nikel. Seperti Pulau Mabuli, Pulau Gee, dan Pulau Pakal. Dampak sedimentasi di sekitar pulau-pulau kecil itu sudah melebar ke laut menyebabkan areal penangkapan atau fishing ground pada saat hauling atau penarikan jaring bagan, yang didapat nelayan justru kebanyakan adalah lumpur.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.