Empat para-para atau tempat penjemuran ikan teri milik Adam yang terletak di pantai Desa Soagimalaha, Kecamatan Kota Maba bahkan hanya terisi satu para-para saja dari hasil tangkap semalam. Biasanya tempat penjemuran itu terisi penuh.

 

“Hanya satu (para-para) saja yang terisi dari hasil tangkap bagan tadi malam,” ungkap Adam.

 

Adam menghela nafas, sejenak dia terdiam begitu ditanya hasil tangkap nelayan bagan kini. Pria bertubuh tinggi tegap itu mengaku, kurang lebih sudah setahun terakhir tidak mendapatkan hasil tangkap yang memuaskan.

Hasil tangkap nelayan di Teluk Buli menurun semenjak kehadiran tambang nikel.(Foto: Ardian Sangaji)

 

Adam bilang, mulai tahun 2020 hingga saat ini hasil tangkap dalam sebulan paling sedikit 500-600 kilogram, dan paling banyak 1-2 ton. Itu hasil ikan teri yang ditimbang setelah dijemur kering. Namun, hasil dari 1 bagan yang dioperasikan 4-5 orang nelayan kini menurun tajam karena hanya berkisar 100-350 kilogram.

 

Jika diuangkan penghasilan bagan dulunya bisa Rp 15-20 juta. Hasil bersih setelah dipotong ongkos operasional, dan bahan bakar minyak (BBM). Tapi sekarang, rata-rata hasil sebulan hanya Rp 7 juta. Bahkan tak jarang pula hanya bisa menutupi ongkos operasional.

 

Kondisi itu membuat pendapatan perorang nelayan ikut terjun bebas menjadi Rp 1 juta lebih sebulan. Imbasnya, banyak nelayan terpaksa beralih ke pekerjaan lain.