“Kalau anak sudah dalam keadaan parah lalu rujuk ke Kota Maba dulu baru dirujuk lagi ke Ternate atau Tobelo itu rasa setengah mati, selama lama ini,” ungkap dia.
Selty Felesko (39 tahun), ibu rumah tangga lainnya di Desa Geltoli, Kecamatan Maba juga memiliki satu anak yang menderita stunting.
Isay (3,1 tahun) anak dari Selty tidak lagi mau menyusu air susu ibu (ASI) ketika usianya 9 hari. Berbeda dengan dua saudaranya yang lain yang menyusu ASI hingga usianya 2 tahun.
Karena tidak mau menyusu ASI, Isay oleh ibunya diberikan susu bubuk untuk bayi hingga sekarang.
“Sudah beberapa bulan ini dia punya badan turun terus, baru dia sering sakit,” kata Selty, Kamis (21/12/2023).
Menurut Selty, meski suaminya hanya bekerja sebagai tukang bengkel, namun keluarganya mampu memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya. Namun untuk anaknya yang paling bungsu ini sangat kurang nafsu makannya. Itu sebabnya, tiba saat Isay yang meminta makan ibunya langsung dengan segera memberinya makan.
“Waktu umur 6 bulan itu dia makan bubur sari, pas sudah satu tahun itu dia makan cuma bermain-bermain tapi dia kuat minum susu, kalau makan dia tidak terlalu,” katanya.
Ditanya soal perhatian perusahaan tambang terhadap masalah stunting di wilayah lingkar tambang, Selty menyebutkan, selama ini baru dari PT Aneka Tambang. Itu pun baru sekali, dan dalam bentuk pelatihan membuat makanan olahan dari pangan lokal.
“Selama ini sih baru bulan kemarin itu 10 desa ini dorang (PT Aneka Tambang) ada bikin pelatihan buat makanan mengolah pangan lokal itu dari Antam,” ujar Selty.
Ibu-ibu di 10 desa se-Kecamatan Maba yang memiliki bayi penderita stunting, kata dia, diajarkan oleh PT Aneka Tambang tentang membuat nugget ikan sayur, dan juga makanan olahan lainnya seperti pentolan ikan maupun aneka olahan dari ubi-ubian.
“Untuk bantuan selama ini tidak ada, untuk torang punya anak stunting itu tidak ada. Selama hidup di sini torang tidak dapat bantuan dari desa kah, dari Antam kah, tidak ada,” ungkap dia.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.