Salah satu perilaku keberagamaan yang paling tradisional adalah mengikuti praktik yang telah ada, beragama karena sebab kelahiran. Sering sekali kebiasaan dalam pola keberagamaan kita diterima dan dipraktikkan turun-temurun “tanpa interupsi”, meski seringkali, zaman sudah berganti, waktu makin berjalan, pengetahuan dan sudut pandang makin beragam. Kita masih kukuh melestarikan kebiasaan yang kadang tak produktif lagi di zaman ini.

Kelakar teman saya dulu saat masih mahasiswa, agama tak bermaksud bikin kita sengsara. Kalaupun terkesan itu “sengsara”, karena kitalah yang membuatnya jadi sengsara. Cukup simpel “syarat” berpakaian saat beribadah salat misalnya. Cukup bersih, suci dari hadats dan bisa menutup aurat. Kitalah yang membuat jadi sengsara dengan menambah lebih banyak “aksesorisnya” hingga terlihat jadi beban yang memberatkan.

Mungkin pekerjaan yang “paling bodoh”, mengingatkan terus-menerus hal yang dianggap paling sepele. Tetapi memelihara hal-hal yang tak esensi dalam perilaku keberagamaan kita tetapi punya efek merusak solidaritas tanpa disadari, jauh lebih buruk dan menyesatkan.

Syariat agama memberi kita panduan bagaimana merawat keteraturan sosial. Dan di menara tadi, tak sekadar memantulkan lantunan ayat-ayat suci yang enak dinikmati, ada efek syahdu sekaligus pembangun solidaritas dan rasa tenteram yang memersatu. Bukan malah bikin pekak telinga dan “merusak keteraturan sosial” di level sekitarnya. Urusan toa yang begini hingga pernah menjadi kontroversi dan “perdebatan nasional”. Tak kurang Dewan Masjid Indonesia sampai bersuara menengahinya.

Dan, dari toa di menara-menara itu, sepertinya kita telah kelewatan memahami cara beragama yang baik menurut esensinya. Sekeras apapun volume di balik toa-toa itu, tak mungkin mengajak hamba Tuhan di pulau sebelah untuk berjamaah bersama kita karena jarak antar masjid pun, nyaris secepat kedipan mata saat berkendara. Masjid yang terlanjur dibuat berlantai ll, bahkan nyaris tak terurus karena jarang difungsikannya. Kelewat simbolik cara kita beribadah.

Satu toa untuk semua, bukan menunjuk multifungsi, lebih dari satu fungsinya, two in one hingga three in one, sebagaimana iklan produk komersial lainnya. Tetapi tentang volumenya, satu toa tetapi hendak “mengingatkan satu pulau”. Wallahua’lam. (*)