Jenis pengajian disertai terjemahannya, punya manfaat paling simpel dan memiliki nilai edukasi paling tinggi. Tak perlu menggunakan media belajar apa-apa, cukup telinga anda tidak bermasalah. Mendengarnya dengan penuh penghayatan dan dalam jangka yang lama, akan memberi kita beberapa pengetahuan tentang arti dan maksud ayat-ayat suci yang didengar itu.

Bagi anak-anak juga, ini media edukasi yang bagus. Minimal bisa mengimbangi serbuan platform media sosial dengan berbagai kontennya yang beragam dan bisa saja tak punya nilai edukasi yang baik bagi generasi kita. Bandingkan jika di toa-toa masjid memantulkan langgam murrotal yang lama dengan volume yang keras, apa manfaat praktisnya yang hendak dicari?

Hal-hal begini harus diberitahu, didiskusikan agar menjadi pembelajaran bersama. Ini bukan urusan pribadi-pribadi setiap kita tetapi urusan umat. Setiap kita, wajib untuk saling mengingatkan agar menjadi lebih baik dan teratur sebagaimana misi syariat agama itu sendiri.

Saya seringkali sedikit kesal hingga heran, hal-hal sesederhana begini, mesti harus diingatkan terus menerus mana baiknya. Jika mindset kita sudah dibentuk oleh kebiasaan, kadangkala akal menjadi lumpuh. Tak perlu seberapa banyak dan seberapa intensif kita beribadah.

Peran indera telinga dalam merekam informasi sebagai media pembelajaran itu cukup efektif. Salah satu dari gaya belajar adalah auditori di mana seseorang lebih cepat menyerap informasi melalui apa yang dia dengar. Mendengar akan memberikan penekanan pada segala jenis bunyi dan kata, baik yang diciptakan maupun yang diingat, di samping gaya visual yang mengandalkan variabel penglihatan dan gaya kinestetik yang mengandalkan pola interaksi langsung dengan objek pembelajaran.

Pada periode tertentu dalam proses pertumbuhannya, anak-anak memiliki kemampuan pembelajaran auditori yang begitu kuat dan efektif pada otaknya. Apa yang didengarnya di masa kecilnya bisa terbawa dan membekas hingga di senja usia. Jika orang tua tak paham bahwa lingkungan sekitar kita, termasuk jenis langgam pengajian di menara masjid tadi, juga sulit dimengerti. Padahal sejatinnya, kita bisa menghemat banyak sumber daya termasuk “uang lelah” para mubalig untuk menafsirkan arti ayat-ayat kitab suci tadi pada anak-anak kita.

Jika harus menggunakan logika untuk mengurai mindset tradisional kita yang sering menggunakan alasan bahwa mendengar ayat-ayat suci pesan Tuhan, akan mendapat pahala maka saya ingin mengatakan pada kita bahwa jika mendengar ayat-ayat tadi tanpa tahu artinya saja sudah mendapatkan imbalan pahala, apalagi mendengarnya sekaligus memahami artinya, akan mendapatkan imbalan “pahala-pahala ” plus pengetahuan baru yang lebih bermanfaat.