Oleh: Budi Nurgianto
Jurnalis I Penikmat Isu Sosial, Media dan Demokrasi
_______
SATU kesempatan saya menyimak dengan serius percakapan tiga anak muda di salah satu warung kopi tentang konsep dalam membangun Kota Ternate. Saya kagum ada warga kota yang mendiskusikan konsep pembangunan dan begitu paham tentang persoalan yang terjadi di Kota Ternate. Mereka terlihat mengerti bagaimana cara mengatasinya, termasuk tawaran gagasan dalam membangun membangun kota.
Secara pribadi, saya sebenarnya jarang merespon percakapan warung kopi, apalagi menanggapi obrolan tiga anak muda itu. Namun entah kenapa saya sangat menyukai percakapan mereka. Diskusi mereka menandakan bahwasanya kota yang dikenal karena sejarahnya memiliki tradisi perdebatan pikiran warga kotanya tentang bagaimana membangun Kota Ternate.
Perdebatan pikiran itu seperti tak akan pernah surut meski beberapa pandangan adalah pengulangan. Ternate — yang pelan-pelan mulai dilupakan oleh sejarahnya sendiri– sesungguhnya merupakan kota yang memiliki kebebasan dalam berpikir, sarat akan gagasan, maju pengetahuan, moderat dalam bersikap, dan tentu bijak bersikap. Menanggapi perdebatan pikiran dengan pikiran, disitulah titik kemajuannya.
Sepanjang abad pertengahan milenium ini, kota ini adalah salah satu pelabuhan paling terkenal di dunia, pusat Kepulauan Maluku, gugusan pulau kecil yang dikenal dalam sejarah sebagai Kepulauan Rempah-Rempah. Pada puncak pengaruhnya kebun cengkeh dan pala di Ternate menjadikan hadiah yang sepadan bagi Spanyol, Portugal, Inggris dan Belanda, serta semangat pembelaan para pedagang Muslim India dan Cina untuk melakukan ekspedisi.
Diskursus mengenai Kota Ternate di warung kopi menjadi penegas bila percakapan warga tentang Kota Ternate tidak dituntun semata berbicara tentang siapa dan bagaimana memimpin kota, tetapi terlihat lebih dari itu, tentang bagaimana sebaiknya membangun Kota. Tentunya pendekatan gagasan dan pikiran kritis menjadi dasarnya. Itulah kenapa saya sangat senang kala mendengar percakapan tiga anak muda soal Ternate di warung kopi itu.
Saya mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang mempunyai keyakinan, bahwasanya merawat intelektualitas antar warga kota merupakan jalan baik membangun peradaban Kota Ternate untuk lebih maju, dapat membantu memberikan solusi terhadap tantangan yang dihadapi, bahwa setiap kota, terlepas dari ukuran dan kekayaannya, dapat berkembang secara signifikan dalam dua atau tiga tahun tidak lepas dengan pikiran warganya. Pandangan dari warga kota menjadi penanda, bahwa kota dapat maju tidak lepas dari pikiran warganya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.