Tidakkah mereka tahu nelayan-nelayan di hampir semua desa juga sulit mendapatkan BBM?Tidakkah mereka degarkan jeritan petani akan anjloknya harga kopra? Tidakkah mereka tengok sulitnya masyarakat desa-desa terpencil mengakses jalan dan transportasi layak sekadar untuk berobat ke rumah sakit?

Tidakkah mereka tahu keresahan masyarakat akan polusi serbuk kayu dari pengelolaan perusahaan di Fala?

Seolah-olah mereka yang duduk di gedung parlemen lupa akan fungsi mereka sebagai DPR, mereka lupa apa itu demokrasi. Mereka bisu untuk untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, tuli atas tangis anak-anak yang kekurangan gizi, bahkan mereka tak punya cukup nyali untuk mengkritisi pemerintah.

Kita saksikan hari ini, bahwa mereka yang kemarin kita percaya dan gagal, kini datang lagi. Dengan tekad untuk terpilih kembali sebagai wakil rakyat yang kedua kalinya. Dan untuk itu harus mendapat simpati rakyat.

Maka cara yang efektif dan ampuh adalah kembali memberi sugesti politik kepada rakyat, dengan magis dan energi yang kuat. Atas nama keluarga, suku, dan ras. Atas nama rakyat mereka dadakan terlihat begitu baik, begitu dermawan, kemudian sumbang sembako, beri santunan, bantuan bibit dan pupuk, alat tangkap nelayan dll. Terpilih lagi, lupa lagi, begitu seterusnya.

Faktanya, kesalahan mewakilkan mereka-mereka yang kualitasnya buruk pada akhirnya akan berakhir buruk pula. Memilih mereka yang kirisis akan ide dan gagasan hanya akan menunda terwujudnya aspirasi rakyat. Memilih mereka yang bernyali kecil hanya akan memperbanyak tumpukan aspirasi rakyat.