Kamis lalu, di WAG lain, saya mengutip pernyataan Ridwan Kamil, ketua tim kerja pemenangan salah satu pasangan capres dan cawapres di sebuah daerah, dari media Kumparan: “Demokrasi tidak selalu memilih orang pintar, cerdas. Demokrasi yang kita pilih adalah memilih orang yang disukai”. Sontak seorang kawan menanggapi bahwa orang cerdas dan pintar akan disukai di semua kalangan. Saya menanggapinya lagi dengan menyodorkan foto kunjungan presiden Jokowi di sebuah pasar di Kupang, NTT, dalam sebuah kunjungan kerja presiden lalu, yang seperti biasa, dikerumuni cukup banyak orang, dengan caption: semua kalangan ada di pasar karena ada perut, disertai emoji sedang senyum. Maksud saya, semua kalangan ada di pasar karena berkepentingan dengan isi perutnya, makanan. Cukup di sini, anda pasti paham maksudnya.

Di kesempatan lain, saya berseloroh dengan karib lain, jika demokrasi kita memang bertujuan melahirkan orang pintar dan cerdas maka Indonesia sudah adil dan makmur sejak 10 tahun setelah merdeka.

Kalau dirasa bahwa ada yang salah dalam praktik kita berdemokrasi saat ini, itu fakta sebagai jawaban paling mutakhir dari hasil reformasi di 1998 yang kita pilih. Mungkin diam-diam, hingga harus bereaksi secara vulgar dan cenderung memaksakan kehendak terhadap keinginan kita, kelompok ataupun lainnya, kita juga dibatasi oleh hak politik setiap orang untuk tidak bisa diintervensi secara semena-mena dalam hal memilih pemimpin, misalnya. Alhasil, terkadang apa yang kita persepsikan sebagai sebuah kondisi yang disebut “demokratis”, ujung-ujungnya justru mengingkari substansi demokrasi itu sendiri.

Seorang karib, di sebuah cerita lepas, diam-diam berujar serius dan terkesan jujur, dari hatinya bahwa di zaman lampau masih jauh lebih baik. Saya memahami apa maksudnya di zaman lampau itu hingga indikator yang dia maksudkan sebagai “baik” tadi. Dan sangat mungkin bukan karib saya ini sendirian yang memimpikan suasana itu di zaman lampau, banyak orang. Saya meyakini bahwa setiap orang, diam-diam, punya definisi sendiri tentang prinsip hingga makna sebuah kondisi demokratis menurut mereka tak butuh teori yang muluk-muluk. Tetapi mustahil kita memutar balik jarum jam sejarah. Toh, budaya tenggang rasa dan toleran itu sudah kita puja-puji sebagai kepribadian bangsa yang terpelihara dalam praktik hidup masyarakat kita hingga menginspirasi para pendiri negara ini, merumuskan dasar dan falsafah negara.

Satu-satunya harapan kita adalah bahwa ada wasit hingga perangkat pertandingan yang kredibel dan bisa dipercaya, tersedia “gratis” seperti di Premier League tadi, yang bisa memberi kesempatan setara, hingga sekelas tim promosi macam Leicester City, bisa dengan mulus, memberi kejutan yang mahal dengan menjadi juara di liga bola paling bergengsi di seantero jagat itu. Wallahua’lam. (*)