Oleh: Sutrisno Pangaribuan

Kader PDIP
Presidium GaMa Centre
Presidium Kornas

_______

LANGKAH politik Gibran Rakabuming Raka (Gibran) maju sebagai bakal calon wakil presiden (bacawapres) mendampingi bakal calon presiden (bacapres) Prabowo Subianto (Prabowo) bukan kejadian luar biasa. Gibran menduplikasi proses bapaknya, Presiden Joko Widodo (Jokowi). Oleh PDIP, Jokowi yang belum selesai tugasnya sebagai wali kota Solo, didorong maju menjadi calon gubernur DKI Jakarta. Kemudian didorong (lagi) oleh PDIP maju sebagai calon presiden meski baru 2 tahun menjadi gubernur DKI Jakarta. PDIP menjadi pelopor sekaligus fasilitator proses kesusu Jokowi meraih kekuasaan politik.

Pilihan Gibran kesusu menjadi bacawapres Prabowo bukan pengkhianatan, juga bukan aji mumpung. Gibran hanya sedang melakoni proses yang lebih cepat dari proses Jokowi. Gibran menunjukkan bahwa anak harus lebih baik dan lebih cepat dari bapaknya. Anak presiden (Gibran) tidak boleh kalah sama anak orang biasa (Jokowi). Jika anak orang biasa (Jokowi) mampu 2 kali mengalahkan mantan menantu presiden, anak mantan menteri (Prabowo), maka Gibran (anak presiden) memilih menjadi juru selamat politik
penentu kemenangan Prabowo (mantan menantu presiden).

Gibran menjadi satu-satunya yang dapat memberi harapan bagi Prabowo untuk mewujudkan mimpinya, sebagai macan asia. Gibran meyakini memiliki kapasitas untuk menjadi wakil presiden, dan pasti bisa menang, berpasangan dengan mantan menantu presiden Soeharto, penguasa orde baru (Prabowo). Bedanya, mengapa tanpa PDIP? Karena Gibran tidak mau sama dengan bapaknya, yang setiap saat disebut petugas partai.

Senjata Makan Tuan PDIP

Meski belum melakukan perang terbuka, elite PDIP dipastikan marah kepada Jokowi dan keluarganya. Elite PDIP mulai mengungkit jasa politik kepada Jokowi dan keluarganya. Cap pengkhianat, kacang lupa kulitnya, tidak tahu diri, dan tidak tahu berterima kasih, mulai dan akan dilekatkan kepada Jokowi dan keluarganya. Namun PDIP masih menahan diri, sedang melakukan kalkulasi politik, karena melakukan perang terbuka kepada Jokowi saat ini lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Para elite PDIP makin galau, sementara Jokowi dan keluarganya santai dan santuy saja menikmati proses bersama badut-badut politik, pimpinan partai pemuja asal pakde senang (APS).

Sikap dan tindakan Gibran dapat dimaknai sebagai kritik terhadap sistem demokrasi internal PDIP. Sekaligus menjadi tamparan keras dan alarm kepada PDIP agar berubah atau tergilas zaman. Para elite PDIP harus menanggalkan dan meninggalkan feodalisme dan kultus individu. Penggunaan istilah tegak lurus dan demokrasi terpimpin yang selalu digaungkan, kini ambruk akibat ulah anak kecil (istilah Panda Nababan), Gibran. Perlakuan istimewa PDIP kepada Jokowi dan keluarganya menjadi senjata makan tuan. PDIP pasrah dan tega membunuh karier politik kader-kadernya demi memenuhi ambisi dinasti politik dan kekuasaan putra sulung Jokowi, Gibran dan menantu Jokowi, Bobby Afif Nasution, yang kesusu maju sebagai calon wali kota.

Akhyar Nasution, Wali Kota Medan petahana (kader dan Wakil Ketua DPD PDIP Sumatera Utara), dipecat dan disebut pengkhianat oleh elite PDIP demi karpet merah buat menantu Jokowi, Bobby. Demikian juga dengan Achmad Purnomo, yang semula telah diputuskan sebagai calon wali kota Solo akhirnya pasrah namanya diganti putra mahkota Jokowi, Gibran yang kesusu maju jadi wali kota Solo. Purnomo yang ditawari jabatan di pemerintah pusat oleh Jokowi, menolak. Sementara Akhyar Nasution memilih melawan dengan bertarung di Pilkada Kota Medan menghadapi menantu Jokowi.